Oleh : Dika Ps
XI PK
XI PK
Krrk...krrk...krrk...
Suara itu hampir menggerisik tiap sudut malam. Kalau
dihitung mungkin tak terbilang. Puluhan lembar termakan amukan galau. Ia
bertindak seenaknya, menarikan pensil sembari menelaah tahun petang. Lalu, ia
lemparkan pada semacam benda yang menjuntai. Ia makin merenung. Angka itu
menyakitkan bila dicicpi. Ia tak henti membentangkan sketsa. Momen momen itu
masih menjelaga otaknya. 0, ternyata almanak dua ribu dua belas itu masih ia
abadikan. Mungkin sebagai obat bagi rindu yang tidak berkesudahan.
“Hufffhhh...!!!!,”desis
nafasnya menggambarkan kebencian. Ia menyalahkan waktu, sebab waktu telah
membuat ia mencicipi keindahan dan waktu juga membuat ia menikmati keperihan.
“Dulu
kau mengecap keindahan, hingga kau merasa manusia yang paling berarti didunia,
dan sekarang kau harus mengecap juga keperihannya. Bukankah itu suatu keadilan
? Ha...ha...ha...”. waktu menyeringai. Tawanya bergema, membuat luka luka makin
mendidih. Angka ia sentuh itu bagai perang mulut dengannya.
“Akh...tidak...”almanak
itu ia campakkan beberapa meter dari keberadaannya, lalu,”A..aaku hanya
menginginkan kehadiran kak Bee, itu saja,”ucapnya dan membiarkan tetesan itu
memandikan kerah bajunya. Rindu menusuk membuat butiran kristal tersebut
berjatuhan. Nafasnya sedu. Kedua pipinya lembab mengukir tanda kesetiaan. Ia
bergumam, menatap sebuah figura yang memampangkan : 14 April 2012. Jemarinya
menari lincah disekujur figura tersebut. Tiap sudut terkenai usapan tangannya.
Andaikan tangannya bertinta, mungkin foto itu sudah lenyap saking seringnya
sentuhan itu mendarat.
“Ha...ha...kau
merindukannya...?”waktu seakan menentang. Ucapannya padat, mengandung cemoohan
yang kadarluarsa ditumpahkan. Telah berbulan, waktu menunggu ia berlutut seolah
memelas semuanya ingin dikembalikan seperti semula.
Diatas
rotasi bumi, waktu berdiri gagah. Ia bangga menonton makhluk tersebut
terperangkap dalam jeratnya. Masa lalu itu benar umpan bagi penikmatnya. Hingga
waktu kali ini merasakan kemenangan, yang menepikan waktu pada kejayaan.
Membuat otak makhluk tersebut kumuh oleh bayangan masa lalu, kenangan.
“Akhh...lupakan,
bodoh kau masih mengingatnya”sang mentaripun bertindak, semangatnya tuk bekerja
terus seolah mencerminkan gambaran bahwa sesuatu itu dijalani dan dinikmati apa
adanya.
“Hey
!! jangan pedulikan, bukankah kau yang membuat cinta itu melekat ? Bukankah kau
yang menghabiskan diriku bersamanya ? Dan apakah semua itu kau campakkan begitu
saja ? Ingat...kenangan dan rindu itu adalah bagian dari hidupmu ? Kau tidak
maukan semuanya lenyap tanpa pembuktian cinta ? “waktu menyergap, menyalahkan
ucapan sang mentari.
Ia terpukul. Sepertinya ia membenarkan rayuan waktu.
Ia terbangkit dari bisikan bayang bayang sebuah almanak dan seberkas pantulan
cahaya mentari. Pensil dihadapannya ia genggam kuat dan menarikan diatas
selembar kertas. Dan setelah berakhir, ia berpikir sejenak. Kedua bola mata
masih ia tujukan pada selembaran tersebut yang ditubuhnya tersirat : 14 April
2012.
“14
April 2012..bukankah angka itu menyakitkan ? Lantas kenapa kau perbuat demikan,
itu hanya akan membuat kau makin rindu “mentari kembali berbisik, seberkas
cahayanya laksana menampar tulisan tersebut. Mentari tidak setuju, ia larut
dalam masa lalu. Sebenarnya mentari hanya ingin makhluk itu menikmati siangnya,
seperti semula, sebelum waktu mempermainkannya.
“Kau
takkan berarti tanpa kenangan itu, kau normalkan...?”ucapan waktu membuat semua
hening. Ruang perkelahian kembali tenang. Ia membatu dan galau mengutuk. Gelap
pun membunuh. Sang mentari kembali kemarkas. Sepi dan sunyi menancap tiap
perputaran jarun jam.
“Apa
ini cinta ?”ia bergumam, sementara jemarinya menari lincah diatas keyboard,
lalu,”Apa ini tidak menyakitkan, bila kuturuti kehendakku larut dalam rindu
rindu beku ? Dan apa yang kuperbuat agar rindu ini lepas dan pergi selain
menikmati galerimu dimonitor ini ?”celotehnya masih tak berujung. Tatapannya
terkaku setelah sosok tersebut muncul.
Kembali ia menyentuh sosok tersebut, persis apa yang
ia lakukan terhadap figura foto sebelumnya. Sentuhan lembut, bagai pertemuan
sepasang kekasih yang telah lama merindukan. Sesuatu mendongak kepalanya. Ia
terdiam lalu tersenyum. Mungkin kisah kisah itu mengutak atik otaknya. Kadang,
senyuman itu ia nilai lebih dari sebuah kenangan. Sebab, senyuman yang selalu
ia lontarkan, tulus atas perlakuan sosok pada monitor itu. Ia menerinci.
Kelakuan konyol yang diperbuat hanya membuat ia tersenyum dan tertawa geli. Ia pun
teringat, tatkala mendapatkan nilai ujian yang parah, sampai sampai ia tak
keluar kelas, merasa minder dan kurang percaya diri. Hanya sosok tersebut
membuat ia kembali pada awalnya.
Senyuman kali ini tak bertahan lama, senyuman itu
memudar, lalu,”Apakah kau masih seperti dulu, memintaku tersenyum dan tidur
yang lelap, bertingkah konyol, menyenandungkan lagu lagu cinta serta
mengirimkan surat yang terkandung puisi puisi cinta dan lelucon, hingga kau
kembali menikmati senyumanku, seperti beberapa bulan lalu ? Sungguh aku tak
menginginkan kau jauh dari kehidupanku”.
Ia seakan tertusuk peluru cinta yang membara. Perlahan
lahan kepalanya rebah tepat dihadapan layar monitor, sementara jemarinya tak
lepas dari tubuh komputer tersebut. Mendadak, kedua matanya tertabrak pada
sebuah almanak dua ribu tiga belas.
“Kak,
aku rindu....”rintihnya pelan. Hanya kata rindu yang terlontar dari gerakan
lidah kerap kali keinginan itu benar benar menusuk. Ia terdiam seketika.
Tatapannya masih tak mau hengkang dari sosok tersebut.
“Kenapa
harus ada rindu tatkala jarak pisahkan kita ? Cintakah ? Sayangkah ? Bencikah
?, ini sangat perih..kak. Andaikan kita dulu tak pernah bertatap muka, pasti
semua takkan terkisah”. “Bagus..kau
mengingatnya...”kembali waktu seolah berucap. Ruang perkelahian kembali
bergema. Namun kali ini, tidak ada mentari, sebab mentari tengah berpetualang
dibagian bumi belahan sana.
Sunyi menepi kedalam pangkuan kelam. Dengan lamban,
dingin turun berganding dengan nyenyanyian syahdu angin malam. Sebuah benda
mungil itu ia mainkan dalam genggamannya. Ia larut dalam kebisuan, menatap
angka angka pada benda mungil tersebut.
“Salahkah
jika aku minta sedikit waktumu disana,kak..walau hanya sekedar mendengar
suaramu itu ? Aku takut, jika aku lakukan kakak akan membenciku, karena
kesibukan kakak yang begitu padat. Emm..semoga disana pendidikan kakak berakhir
dengan cepat, seperti yang kakak ucapkan padaku beberapa bulan lalu,”ia
membatin seraya tersenyum. Dan selalu saja senyuman itu dibarengi hujan dikedua
kelopak mata.
Ia duduk menghadap barat, lalu meneliti. Pada bagian
barat itulah rindunya menumpuk. Ia selalu membentangkan bagan tentang sosok
tersebut. Lebih lebih jika jingga mekar tatkala senja. Ia tak jenuh bersketsa.
Padang..? Bibir itu telah lusuh dengan ucapan Padang, Padang dan Padang.
“Padang..?
Apakah kau disana itu ?,”gumamnya dan bola matanya liar menerka keberadaan dari
jauh.
Pernak pernik tubuh bintang terbingkai indah
diangkasa. Malam ini indah, namun itu tetap saja baginya seperti malam yang
redup, malam yang terlalu perih dinikmati saat ini. “Akh....aku harus tetap aku
yang dulu. Mey, gadis yang ceria dan periang, tapi... aku nggak bisa kembalikan
semua tanpa kehadiran kak Bye. Semenjak keberangkatan kak Bye, semua terasa
hampa tak berwarna. Dunia bagai terasa kering. Huff...bagaimanapun juga aku
harus bisa tanpa kehadiran dia. Ya Allah...yakinkan bahwa aku pasti bisa,”ia
membatin sembari menelusuri helai tiap helai sudut koran. Sayangnya, apa yang
berjejal dihalaman halaman tersebut tidak bersahabat. Malahan membuat ia makin
kembali tersandung waktu lalu. Seonggok kalimat : Gempa Yang Melanda Kota Padang serta sebuah bangunan bangunan roboh,
membuatnya nyaris menitikkan air mata.
Antenanya kembali merespon bahwa sesuatu itu dinikmati
bukan disesali. Kata kata itu ia rekam beberapa bulan lalu. Ia mengingat.
Tatkala itu ia menelusuri bibir pantai berdua. Membiarkan jilatan ombak
membasahi kaki telanjang, saling lempar kata, tentang pendidikan, pengalaman
bahkan kehidupan hingga keluarlah kata kata yang barusan menghantui otaknya.
“Segala
sesuatu itu dinikmati bukan disesali, bukankah ini kata yang kak Bee lemparkan
kepadaku..dikala senja itu?”nada suaranya makin melemah. Sepertinya ia ingin
cerita lalu itu terulang kembali. “Aku tak menginginkan semuanya pudar
begitu saja,”mendadak suaranya drastis berubah.
Ia beranjak dari perkelahian. Harapannya untuk kembali
bertemu masih terbang diawang awang. Ia menaruh koran tersebut, lalu menutup
komputer dan mencoba lelap, menepis lembaran lembaran kisah yang selama ini
memebebani pundaknya. Semua kembali hening. Kabut kabut rindu mulai melangkah.
Dingin menusuk hingga kelapisan tulang iga. Sunyi mencekam. Hanya derap langkah
jarum jam bernyanyi, tiap detik ke menit.
****
Hari ini dijam 02.00 a.m. Ditaman
belakang sekolah ia merenung menatap awan awan yang mengisi hamparan langit.
Rindukah ? Berimajinasikah ? Semua masih membanjirinya.
“Hm..Mey, ternyata kamu
disini, apakah tugas bahasa indonesia halaman 75 sudah kamu selesaikan ?” “Oh..tidak
sama sekali. Buku itupun belum aku sentuh sedikitpun”. “Belum
?”
“Mm..kenapa sich ?”
“Hey ! ! Kamu nih..kamu nih sudah
berubah Mey, kamu bukan yang dulu lagi, rajin, ceria, aktif. Coba sekarang ! !
Pendiam dan lebih suka sendiri kayak gini, gimana sich kamu...memangnya kamu
mau nanti kita jongkok depan kelas, jadi tontonan mereka semua, malukan ! ! !
Kamukan jago bahasa indonesia ?” “Dengar ya Chika, aku
biasa saja kok, nggak terlalu jago bahasa indonesia, aku Cuma menyukainya.
Kenapa sich kalian selalu tertumpu dengan jawaban dariku, tuh ada Jee, Luna, Bari..mereka
tu lebih jago dariku dan kenapa harus aku ?”
”Bukannya gitu
Youra...kita cuma butuh kebersamaan. Bukankah kebersamaan itu lebih
menyenangkan, kompak dan saling berbagi...,”
”Aku tau kok tapi
aku cumaa.....”
”Ya sudah Mey, aku tinggalin dulu ya”.
Sepi kembali memukulinya untuk berimajinasi.
Siang dan malam tak berbeda baginya. Malam berbintang tak indah begitupun
dengan siang, cerah tidak cerahnya tak membuat sedikitpun ia nampak menikmati
harinya. Ia lebih menyukai diam, lebih lebih di taman sekolah ini. Ia paling
menyukai duduk disini terutama saat sepi. Ia akan terbang dan melepaskan apa
yang menganggu perasaannya.
“Kebersamaan...”Ia membatin
dan mengulang ngulangi kalimat tersebut. “Kebersamaan dapat membuat kita
saling berbagi, ya benar.....”perlahan lahan butiran itu membasahi kedua
pipinya. Hanya tetesan butiran yang dapat ia berikan setiap hal kebersamaan itu
tertangkap pendengarannya. “Kalian..tidak
mengerti dengan perasaanku saat ini, kalian bagai anjing yang mendapat seonggok
makanan. Kalian hanya bisa mementingkan perasaan kalian”.
“Mey..Mey..,”sebuah suara
membuyarkan lamunannya. Dengan sigap ia menyeka seluruh tetesan itu dengan
lengan bajunya. “Eh....Bari,
sudah siap tugas kelompoknya Bar..?”ia berusaha tersenyum tapi yang jelas
senyuman itu penuh kepalsuan demi menyelimuti tangisnya. “Kamu..kamu habis nangis ya...” “Oh..nggak,
ada yang aneh denganku ?” “Emm..ti..ti..tidak..cuma
nanya saja kok..”
”O..gitu ya” “Tugas
tadi ya....belum siap sich...! ! ! Aku cuma nggak enak aja sama kamu Mey” “Maksudnya
Bar..?” “Mmm..iyaa..awal
aku dekat dengan kamu, waktu kelas sembilan SMP dulu, kamu orangnya ceria,
rajin, dan aktif dalam segala kegiatan Ekstrakurikuler”
”Lalu ?” “Ya.....kamu
tu orangnya ceria dan aktif” “Ceria dan aktif
darimana, biasa saja kok..” “
Toh, buktinya kamu jadi Osiskan waktu SMP sampai sampai dapat penghargaaan dari
Kak Bee, pake hadiah pula lagi tuh ! ! !“ “He..he..memangnya
kamu ngiri ya, aku dapat penghargaan gitu..” “Oh..nggak,
bukan gitu....maksudnya gini, kamu tuh biasanya ceria, mudah
tersenyum...terutama saat...saat kak Bee PL dulu, dan semenjak di SMU ini, kamu
dah berubah Mey, pendiam dan lebih suka menyendiri kayak gini..” “Aku
rasa biasa saja Bar..nggak jauh beda kok dengan sebelumnya” “Mey,
tau nggak..kamu mirip pacaran dengan kak Bee, iyakan...” “Akh..yang benar saja
Bar ngomongnya, memangnya kamu lihat dari sudut mana?” “Kalian...sering jalan
berdua, bercanda berdua, jalan berdua, kemana mana berdua dan...yang paling aku
ingat disaat kak Bee suka jahil sama kamu sampai sampai kamu nangis dan
membencinya, iyakan..” “Cuman
itu doang kok Bar, udah dibilang pacaran, gimana sich kamu ini ?” “Memangnya nggak
pernah kak Bee bilang sesuatu sama kamu ?” “Hah
! ! Bilang sesuatu, memangnya ada apa Bar..” “Aduh gimana ya Mey mau bilangnya,
sebelumnya maaf ya Mey, sebenarnya...sudah lama kak Bee ngomong sama aku, tapi
karena masih bimbang bilangin ke kamu, lagian kalian begitu akrab kayak pacaran,
ya...aku simpan saja semuanya, aku pikir...kak Bee sudah jadian sama kamu” “Maksudnya
apa Bar, aku nggak ngerti ! !” “Gini..dulu
waktu classmetting, disaat kamu tengah bermain basket dilapangan, aku sama kak Bee
ngomongin kamu didepan perpuss..” “Memangnya..kak
Bee ngomong apa Bar..” “Kak
Bee pernah suka sama kamu Mey, tapi...tapi....” “Tapi
apa Bar...” “Tapi
dia bilang karena perbedaan umur yang terlalu jauh dan juga keberadaannya yang
singkat saat itu. Cuman se-semester , habis itu dia balik lagi ke Padang” “Oh..gitu
ya,wajar aja dia sering nemanin aku ngerjakan tugas. Lebih lebih waktu aku
hampir putus asa bikin soal soal itu, dia akan bantu tanpa aku minta” “Sudahlah Mey,
semuanya dah berlalu, mustahilkan terulang kembali” “Aku
ingat Bar semuanya, kak Bee pernah nanya tentang tahun kelahiranku di Labor
komputer, tapi..aku nggak tau apa maksudnya, aku pikir..pengen tau saja” “Berapa sich
bedanya sama kamu” “Waktu
SMP dulu..dia dua puluh dua dan aku lima belas, tapi..kenapa sich kak Bee nggak
bilang bilang sama aku...” “Pasti
ada sesuatu Mey, yang jelas dia bukan bermaksud ngecewakan kamu, kamu masih
komunikasikan sama dia ?” “Masih,
nggak kayak dulu lagi Bar, kemana mana selalu bareng, sekarang tidak
lagi...sudah satu tahun lebih aku nggak jumpa dengannya Bar..” “Kamu
tau kabar dia sekarang ?” “Tau
Bar, dia telat nyelesaikan kuliahnya, dia bilang...kejar IPK tinggi...” “O,
syukurlah Mey kamu masih komunikasi dengannya. Aku ngerti ngerti sekali
perasaan kamu sekarang Mey, tapi nggak perlu dipikirin kok, kan masih
komunikasi. Mey..aku ke toilet dulu ya..” “Mm...tunggu
Bar.....” “Ada
apalagi Mey..” “Ka..kamu..kamu teman akrabnya
kan...aa..maksudnya kak Bee, aku lihat sejak dulu kalian begitu dekat,
tapi...kamu masih komunikasi jugakan sama sama kak Bee ?” “Komunikasi...masih Mey,
tapi hanya sesekali, itupun sebatas nanya tugas yang rumit, kalau kayak dulu
lagi...nggak sich, mungkin dia terlalu sibuk” “O,
aku ngerti kok Bar, dia terlalu sibuk. Dan...aku paham betul, dia juga orang
yang gigih dalam mencapai impiannya, terutama demi masa depannya” “Memangnya..kak
Bee pernah ngomongin itu sama kamu” “Pernah
sich..tapi kebanyakan dia lebih suka memotivasi aku, dia pernah bilang, sesuatu
itu dinikmati bukan disesali..” “Nah,
itu dia Mey, sesuatu itu dinikmati bukan disesali, jadi..kamu harus jalani aja
semuanya, nikmati harimu meski tanpa kehadiran kak Bee, bukan disesali kayak
gini..” “Tapi..kayaknya
aku nggak bisa dech Bar, kemana pergi selalu ingat kak Bee..” “Percayalah Mey, kamu pasti
bisa, jadi ini toh yang bikin kamu malas belajar..” “Nggak..” “Udah
deh Mey, ngaku saja..aku dah tau kok semuanya..” “Iya
deh..aku ngaku..” “Tu kan..benar juga, aku
tinggalin dulu ya..”
“Iya Bar, tapi..aku nyesel, soalnya waktu SMP aku benci sekali sama kak
Bee, ternyata.. kak Bee tidak seperti apa yang kukira, dia baik, pengertian..”
”Sudahlah Mey, gak perlu disesalin, lebih baik kamu mikirin hal hal
tentang masa depan kamu”
“Iya
Bar..aku coba”
Ia membatu. Semua rasa ia
kemasi dalam diri. Ada sedikit lega dari sebelumnya, namun dibalik semua itu
masih terbungkus letupan perih. Dalam benaknya ia bersketsa. Kedua bola matanya
liar menerawang ke hamparan langit yang luas. Ia bagai menangkap sosok
tersebut. Awan awan yang terdapat ditubuh langit itu menyapanya dalam hening.
Semua kembali sepi. Nyenyanyian burung di udara sana tak mempan mengusik
pikirannya dari pengakuan Bari tentang Bee, sosok yang selama ini menghantui
batinnya, hingga rindunya beku.
Bel tanda pulang menyelusup kerongga
telinganya. Akan tetapi ia tak mau hengkang dari sisi taman ini. Semua
terdengar riuh. Derusan kendaraan membanjiri pintu pagar yang masih segar warna
untuk dinikmati. Derap langkah mengisi tiap lorong jalan antara kelas dengan
kelas. Ia tetap tak tersentuh, layaknya yang lain. Benar benar bagai arca
kesepian. Ia masih setia menemani pohon Akasia yang melindungi dirinya dari
sengatan mentari.
“Kau bodoh ! !”ucapan waktu
seolah menyuruh ia membuka segala hal tentang sosok tersebut. Sesuatu ia
keluarkan, lalu ia terinci dengan penuh arti. Ya...puisi. ia mengingat, bukankah
sosok tersebut membuat ia menyukai “puisi” dan mengenal “dunia sastra” ? Tak
sedikitpun ia lupa. Selalu setiap pagi ia mendapati pada atas meja, secarik
kertas yang dilapisi sebuah amplop yang mana didalamnya terangkai indah kata
kata, hingga membuatnya ketagihan untuk membaca setiap hal yang bernama puisi
Ia benar benar tak karuan.
Puisi yang pertama kali ia dapati masih utuh dan rapi. “Kak..kenapa harus
perih, bukankah kita yang membuat semuanya tersa lebih indah, aku nyesal kak,
aku telat mengartikan sikapmu, aku bodoh ! !”
“Tidak...kau tidak bodoh.
Hanya saja semuanya ujian terhadap perasaan kamu, agar kamu berfikir lebih
dewasa,”sang mentaripun seolah tak kalah dari pertempuran.
“Youra..kok masih disini ?
Tuh...kan habis nangis” “Aku
nggak nangis Bar, cuma sedih aja kok” “Aduh
ra, aku..aku jadi nyesal nich ngomongin semuanya sama kamu. Nich jadinya, kamu
malah tambah sedih” “Nggak
Bar, malahan aku bangga punya teman kayak kamu, kamu orangnya baik, beda sama
yang lain, wajar saja kak Bee ngomongin perasaannya sama kamu” “Baik ? Aku rasa tidak Ra..dikit dikit
aku juga usil sama cewek cewek yang lain kok” “Bukan gitu Bar, kamu
itu...dapat dipercaya. Ngertikan. Yuk, kita pulang” “Eits..tunggu
dulu Ra, kamu juga sukakan sama kak Bee ?” “Nggak
! ! Kak Bee itu sudah aku anggap sebagai kakak kandungku sendiri. Itu aja,
nggak lebih dikitpun” “Lantas..dalam
rangka apa kamu sedih sedih gini sambil pegangin puisi dari kak Bee ?”
“Heh..mamangnya kamu tau nich puisi ?” “Taulah..orang saja pernah nemanin kak
Bye bikin puisi di parkiran” “Sudahlah...nggak
perlu dibahas”
“Ya udah, ngalah aja dech sama kamu, ntarr kalau nangis lagi, kan....kak
Bee-nya nggak ada disini”
“Eh..apaan sich kamu”
“Kan
benar tuch..kalian suka sama suka”
“Hey..diam nggak ! !”
“Aku hanya ingin kak Bee ada
disini..apakah rindu ini pertanda cinta ?”ia bergumam lirih sembari menapaki
meter demi meter trotoar.
Langkahnya lesu dan pelan, sementara
kepalanya menunduk tanpa memperdulikan kendaraan dan keramaian. Dalam otaknya bayangan
sosok tersebut masih menari lincah. Ia membayangkan segala yang berbau tentang
sosok itu. Sosok pemain basket, dan yang paling melekat dalam otaknya adalah
seorang yang encer dalam masalah komputer dan laptop. Semua tersentak.
Tatkala itu, ia menangis meratapi layar
laptopnya yang kaku lantaran kecerobohannya dalam bersikap. Layar itu hanya
menampakkan hitam. Namun ia selalu berusaha, akan tetapi usahanya tidak
membuahkan hasil. Tetap saja layar tersebut kaku, hingga ia memukuli laptop itu
berkali kali. Beberapa selang waktu, tangisannya redup setelah sosok tersebut
menyentuh dan memperbuat laptop itu persis semula.
Ia tetap menunduk, sesekali tersenyum kecil. Terkadangpun, senyuman itu
ia terselingi dengan sebuah rasa ‘rindu’. Spontan saja langit murung, gelap
menerkam. Ada rintik rintik yang sebagian diantaranya memandikan sekujur
tubuhnya. Kilat menyambar, petir berterbangan. Ia terjaga dari lamunan dan
melabuhkan langkahnya disebuah halte. Dalam pikirannya berkecamuk antara risih
dan rindu. Andaikan tadi pagi ia tak menolak untuk dijemput, pasti semuanya
tidak ia jalani. Berdiam dihalte yang sunyi, sendirian tanpa seorangpun dan
yang pasti beberapa detik lagi kejenuhan mulai mengekangnya.
Berkali kali ia mencoba duduk, lalu berdiri.
Ia tetap mengulangi hal tersebut. Tak ada hasil. Jenuh itu masih sulit tuk
ditepis. Dan pernah juga ia menyetel lagu lagu dari mp3-nya agar jenuh itu
terbunuh oleh nada nada serta lirik yang terkandung didalamnya. Ia sepertinya menikmati,
meski samar samar terdengar sekurangnya mampu menelan risih dan gelisah yang
datang. Mp3-nya menyenandungkan lagu milik Seventeen. Entah..lirik ‘jaga selalu
hatimu’ itu bagai sembilu yang menyayatnya digaris sunyi. Risih pergi, rindu
membelenggu.
“Bagus..kau mengingatnya, kau
takkan pernah mencicipi cinta tanpa sebuah rindu, aku takkan memberi jalan
bagimu kembali kepangkuannya, dan sekarang nikmati saja pangkal lidah itu !
!”waktu menyeringai. Tawanya adalah luka bagi makhluk yang terseret dalam permainannya.
“Akh..tidak..tidak..semua
tidak benar. Aku yakin jika Tuhan mempertemukan kita semua pasti terulang,”ia
membatin seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali,lalu“Lagu
ini..menghanyutkanku pada detik detik tirai penghabisan itu, aku teringat, kak
Bee membawakan lagu ini diatas panggung perayaan perpisahanku waktu lalu,
kenapa semua cepat berlalu?”ia membatin seraya melogatkan lirik lagu tersebut. “Itu
berarti kau tidak menikmatinya diwaktu lalu, kau hanya bisa melewati diriku
tanpa memaknainya, sehingga aku kau nilai sebagai umur pendek,”waktu seolah
berbisik membuat sosok tersebut makin menyalahkan dirinya.
Ia terlanang disebuah sudut
halte. Pikirannya terbang melintasi awan. Dalam batinnya hanya terukir kata ‘rindu’.
Tatapannya menerinci kearah jalan yang berair. Jika sosok tersebut disisinya,
mungkin halte ini akan menjadi lebih indah dan berwarna. Ia menggambarkan sosok
tersebut berjalan ditrotoar, menghampirinya dan menawarkan sebuah jaket, bagai
beberapa bulan lalu.
Halte ini menjadi penyakit yang
menggelayuti tubuhnya. Barangkali ia terpaksa menggali kembali sisa lembar
kenangan yang telah terlalui satu tahun lebih. Badai rindu yang datang ia
kemasi dalam sebuah tulisan. Ia yakin bahwa tulisan mampu mengabadikan serpihan
rasa yang tertinggal, tidak bagai tulisan yang terukir dibibir pantai setahun
lalu, tatkala sosok tersebut sejengkal dari tatapannya.
“Ya..dibibir pantai itu kau membuat tubuhku
memar akan tamparan hangat dan penuh kasih sayang. Baguslah..ternyata virus itu
masih menguasai otakmu. Nah itu adalah pedang bagimu yang menyayat batinmu
untuk memutarku kembali menjejaki satu tahun kebelakangan, oh..takkan
pernah..!!”waku seolah perang batin dengannya. Persiteruan ini selalu ia
hadapi, terutama tatkala sunyi dan sepi.
“Aku ingin kak Bee ada
disini, apakah mungkin kembali aku menjumpai dirinya hadir didepan mata, meski semua
takkan terulang, aku bagai dunia kekeringan, bertahan dari kehausan yang
mengancam, namun akankah berakhir ?”batinnya terucap dan membilah jari demi
jari. Ia lakukan berulang kali seakan ia tak menginginkan hasil hitungannya.
Satu tahun lebih, terpaksa ia menelan ludah. Ia berucap bahwa janganlah satu
tahun itu yang hadir setiap hitungan ia sudahi. Namun apa boleh buat, sudah
kodratnya begitu.
Kemaren 14 April 2012 dan sekarang akhir Agustus
2013, namun entah..keindahan hari tersebut masih menggantung dilangit langit
kepalanya. Ia terbungkam diantara nyenyanyian rintik hujan yang mulai beranjak.
Jalanan kembali riuh. Dengan gontai, ia langkahkan jua kaki meninggalkan hallte
yang terlihat makin muram seakan memanggil dirinya untuk kembali. Sebelum
menjauh, ia menatap lagi halte tersebut. Dahinya mengernyit beberapakali. Ia
seperti menangkap sesuatu.
“Kak Bee..ya kakak Bee, aku
ingat..kita pernah duduk disini bergurau dan bermain tebakan sambil menunggu
kepergian hujan, dihari pertama aku classmetting.
“Oh..!! ya, kertas itu..” Ia
berlari memasuki halte itu kembali. Tangannya bergerak liar menyentuh sekujur
tubuh, bagai orang yang kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
“Oh..yeah..masih ada, walau
telah tercecer ! !”dengan kilat, ia menyambar robekan kertas yang terselip diantara
sela sela kursi.
Kertas itu ia tatap berkali kali, seolah
ingin memuntahkan rindu yang telah berbulan bulan ia peram. Mungkin ia menilai
robekan itu bagai alarm yang selalu mengingatkannya bahwa pada sesuatu hal yang
sangat berarti dalam jejak jejak, yang pernah ia ukir pada lantai halte itu.
Perlahan lahan cekung matanya telah dipenuhi oleh beberapa butiran kristal yang
siap lepas tandas. Namun kali ini tak ia biarkan butiran butiran tersebut
memandikan kerah bajunya.
Robekan tersebut ia kemasi. Ia berlalu.
Dingin sisa perjalanan hujan membuatnya sedikit mendekap. Selangkah demi
selangkah seolah tak ia rasakan. Getaran cinta dan badai rindu yang
membunuhnya, tak akan pernah membuat ia untuk menghapus segala bayangan itu
dari jejaknya. Demi bayangan tersebut, tak apalah ia dinilai telah berubah.
Baginya, tidak masalah jika semua temannya telah menjauh akibat perubahan sikap
yang ia pertontonkan, asalkan bayangan Bee tetap abadi bagai tulisan, yang
mampu mengabadikan berjuta perasaan.
“Seharusnya tidak
kupertaruhkan air mata ini hanya demi sebuah kenangan..seharusnya aku kuat dan
sadar bahwa cinta mesti tak harus memiliki, tapi apakah salah jika aku berharap
semuakan terulang kembali ? Ya Tuhan..sampai kapan rindu ini menyayatku ?
Kapankah rindu ini berlabuh ?”butiran kristal itu menetes dan berjatuhan tiap
setapak demi setapak kaki ia langkahkan.
Ia terhenti sejenak. Pandangannya
lurus kedepan. Telah beribu ribu langkah ia layangkan. Akan tetapi tak
sedikitpun membuatnya berhenti untuk berharap. Rindu yang berkecamuk, malahan
membuatnya makin menikmati tiap detik perjalanannya. Bukankah biasanya ia
paling anti dengan yang namanya jalan kaki ? Entah..kali ini ia begitu
menikmati.
Tak terasa selangkah demi selangkah telah
mengantarkannya pada halaman depan rumah. Akan tetapi, sesekali pikiran itu
masih dipenuhi oleh beberapa kenangan yang sangat tak mungkin hilang dan lenyap
dengan sendirinya. Rindu yang membatu sangat sukar dilebur. Meskipun berpuluhan
tips dan cara melenyapkannya ia peroleh dari Google, namun yang namanya rindu
tak mempan lenyap, kecuali pertemuan yang harus ia jalani layaknya beberapa
tahun lalu. Lama bergumam, akhirnya ia memasuki rumah bersama serpihan rindu.
Ia menjuntai pada sudut malam diatas kursi
yang selalu menjadi saksi tatkala rindu rindu itu membelenggu. Jendela kamar
sengaja ia buka lebar seolah olah mempersilahkan hadirnya bayangan sosok
tersebut. Secarik kertas yang ia peroleh dihalte sebelumnya turut menikmati
sedihnya saat ini. Pandangannya lurus keatas dan sesekalipun ia alihkan pada
secarik kertas tersebut. Begitupun dengan puisi yang kerap kali ia dapati dalam
laci meja didetik semuanya belum usai dan pergi seperti ini. Semua ia keluarkan
tanpa tersisa, hingga meja dibanjiri oleh secarik kertas yang menurutnya begitu
sangat berarti.
Salah satu diantara lembaran tersebut ia
baca. Dan tak lupa usapannya menyentuh kata kata yang bertinta hitam itu.
Mungkin dengan adanya lembaran kertas tersebut, setidaknya dapat membuat rindunya
sedikit menipis. Akan tetapi, itu tidak dapat bertahan lama setelah ia sadar
bahwa rindu rindu itu takkan terobati dengan beribu ribu kata dan tulisan.
“Akh..seharusnya
dulu aku tak membencinya sedikitpun, mungkin rasa sesal ini takkan mengekangku,
bisa jadi aku mencintainya lantaran terlalu membenci kehadirannya,”ia
berceloteh seakan akan melampiaskan rasa sesal itu.
“Sifat
jahil itu...ternyata kak Bee hanya ingin mendekatiku, bukan karena yang lain,
maafkan aku kak...”gumamnya dan mencoba mempertahankan tetesan itu agar kembali
tak mengenai pipinya.
“Mey..Mey.......”
suara itu membuyarkan lamunannya. “Bari, Luna, Jee, a..ada apa malam malam gini“
“Maaf
ganggu, tadi aku coba telfon kamu, tapi gak aktif...makanya kami langsung saja
kesini” “Oh..iya
handhphoneku lagi mati, yuk masuk” “Makasih
Mey, kita disini saja” “Sebenarnya
ada apa Bar ?” “Emh..gini
Mey, besokkan hari Minggu, gimana kalau kita latihan basket bareng disekolah,
tapi..tapi bukan di SMU Mey, latihannya di SMP kita yang kemaren, maukan” “Malam
malam kesini cuma ingin bilang latihan basket, ah..kalian ada ada saja..” “Ya..sekalian liat liat
sekolah, selama di SMU kan kita belum pernah ke SMP” “Aduh maaf Bar, aku
nggak...”
“Sstt..jangan lagi kamu bilang nggak bisa, kita jauh jauh kesini cuma
butuh kehadiran kamu besok Mey”
“Tapi...”
“Mey,
yang jelas..kalau kamu nggak mau, kamu bakalan nyesal”
“Nyesal..cuma gara gara nggak ikut latihan basket aku nyesal,
akh..jangan main main kalian” “Benaran, kamu pasti nyesel” “Aku
nyesal, ini terlalu konyol Bar...”
“Mey pilisss..., maukan
?”
“Oke, tapi jangan pake lama lama ya”
“Nah..gitu
dong, oh iya..kami pamit dulu ya..”
“Lho..kok cepat sekali..”
“Soalnya
hari sudah larut malam Mey” “Stop..tunggu
dulu, kalian datang kesini, terus cuma bilang besok latihan basket bareng dan
setelah itu kalian pergi buru buru gitu..maksud kalian apa sih, dari lagak
kalian aku sedikit curiga, atau..jangan jangan kalian ngerjain aku biar aku
kembali seperti dulu iyakan...” “Mey..kami
bukan.......” “Alah..dari
cara kalian aku sudah tau kok, pasti ada sesuatu dibalik semua ini” “Aduh Mey,
pokoknya kamu nggak bakalan nyesal, dijamin..!” “Cukup..oke
oke aku akan datang tapi ingat ya..aku akan datang dengan caraku sendiri”
“Baiklah, yang penting kamu datang besok jam sembilan”
Ia menghembuskan nafas disela sela kegelisahannya.
Ucapan yang baru saja ia terima laksana di dunia mimpi. Berbagai pertanyaanpun
muncul, sementara ia tak lepas dari ucapan tadi yang terkadang membuat beribu
rasa penasaran membebani kepalanya. Antara percaya dan tidak, ia tetap
mengenang ucapan itu kembali. Ia makin tertunduk. Sejenak ia coba hapus kembali
seakan akan ucapan itu tak pernah mampir ketelinganya. Sesuatu serasa membebani
kedua kelopak matanya. Lalu dengan langkah yang penuh kelelahan, ia menutup
jendela kamar dengan rapat dan menghempaskan tubuhnya pada ranjang.
“Kak
Bee..kakak masih disini...” “Siapa
kamu ?” “Aku Mey kak..orang yang pernah
kak pinjamkan jacket dihalte itu, dan juga kak bantu saat..saat aku kecebur
dalam kolam dibelakang sekolah..” “Maaf
ya..aku nggak kenal sama kamu” “Kak..dengarin
aku dulu, bukankah kakak yang bilang sama Bari kalau kakak...kakak punya rasa, sama
aku?”
“Bari..aku
nggak kenal, jangankan punya rasa, kenalpun aku nggak sama kalian..” “Lalu..siapa
perempuan ini kak ?”
“Oh
ini..ini pacar aku yang aku dapatkan saat malakukan penelitian di SMU-nya,
memang kenapa, kamu kenal sama dia ?”
“Pacar kakak..ini pacar
kakak !”
“Iya, sudahlah mendingan kamu pergi sana, nggagguin orang saja..” “Kak..kak..kak...kak
beeeeeee.........”
“Kak
Bee..kak Bee......”sebuah jam bekker kesayangannya berdentang nyaring, ia
tersentak sementara sekujur tubuhnya basah akibat keringat dan begitu juga dengan
nafasnya yang terengah engah, seperti baru saja menyelesaikan sebuah pertandingan
lari jauh, lalu ”Ya Tuhan...aku bermimpi, kak apakah masih seperti dulu
?”gumamnya mencoba melirik pada puisi puisi yang berserakan diatas meja.
Ia bangkit lalu membenahi puisi puisi yang
masih berserakan dan tak lupa membuka gorden yang masih menutup jendela
kamarnya. Hujan yang begitu deras menyambutnya pertama kali. Ia menggerutu.
Bukankah ia mempunyai janji untuk datang latihan basket ke SMP itu ? Lagi lagi
hujan menghalangi langkahnya untuk keluar rumah. Ia makin merenung menatap
rintik rintik hujan yang enggan membiarkan kakinya untuk melangkah. Begitupun
dengan waktu yang makin terus melangkah mendekati jarum jam perjanjian. Sembari
menunggu kepergian hujan, ia mencoba mengingat kembali. Akh..perih sekali jika
itu memang jadi kenyataan. Dan tetesan itu kembali lagi memenuhi kedua bola
matanya.
“Mey..Mey... jadikan..” sebuah suara derusan
mobil menghentikan aliran tetesan itu. “Aku bersih bersih dulu
Bar, duluan saja kalian, ntar aku nyusul “sambungnya berlalu dari depan
jendela.
Setelah semua sudah bersih, ia mengemasi
barang barang yang akan dibawa, dan tak lupa sebotol susu Hiloteen sebagai bekal latihan nantipun juga memenuhi ransel Adidas yang memang ransel khusus dibawa
saat ia melakukan kegiatan semacam olahraga. Ia berlalu meninggalkan ruang yang
selalu menjadi tempat persiteruan terutama tatkala rindu mampir.
“Lho..kalian
kok belum berangkat ?” “Kita
kita lagi nugguin kamu Mey..” “Aku
berangkat sendiri saja” “Nggak
bisa gitu Mey..kalau latihannya bareng, ngapain harus berangkat sendiri, kan
nggak enak jadinya, apalagi hujan kayak gini” “Aku
nggak peduli..hujan atau nggak..”
“Mey..kok kamu tambah galak kayak gini, a..aku jadi bingung”
“Dengar ya Bar..aku kan sudah bilang..aku akan berangkat dengan caraku
sendiri, dan aku nggak pernah bilang kalau aku, berangkat bareng kayak
gini”
“Iya
kami ngerti kok, tapi inikan hujan Mey, ntar kamu sakit gimana ?” “Aduuhh...kalian
itu aneh aneh saja ya, seharusnya kalian yang mikir..kenapa hari hujan latihan
basketnya tetap lanjut..?” “Tapi
Mey..ini semua...” “Sudah deh Bari, kalau gitu
aku nggak mau datang” “Eh..jangan
Mey, kami benar benar butuh kehadiran kamu saat ini”
“Baguslah..kalau gitu duluan saja kalian..”
“Baik, tapi kamu harus datang ya”
Toyota Alphard itu telah berlalu dari
hadapannya. Kini yang ada dihadapannya adalah percikan hujan yang semakin
menjadi jadi. Dingin, menyelusup kerongga rongga yang dapat dilewati, disusul
percikan hujan sesekali ingin menjangkau tubuhnya dari halaman depan. Spontan,
matanya menangkap sosok jalanan depan sana. Sesosok lelaki yang bertubuh tegap
tengah menyelimuti seorang perempuan dengan sebuat jacket milik lelaki
tersebut.
“Akh..romantis
sekali, kehadiran mereka membuatku ingat sama kak Bee..”gumamnya sembari
menatap bayangan mereka yang semakin lenyap didepan mata.
Ia masih terpaku menerinci setiap air yang
berjatuhan. Ada gundah yang tengah bercokol dalam dirinya, takut hujan ini
takkan berakhir. Dan rindupun sesekali mengotori pikirannya, ingat akan
bayangan tersebut. Ia berpikir. Sekali lagi ia menyalahkan waktu. Andai saja, waktu
takkan berjalan dan berputar, mungkin rindu ini tidak pernah sama sekali
singgah dalam kesendiriannya.
Hujan masih belum hengkang, sementara jarum
jam makin mendekati angka sembilan. Ia masih termangu disela sela nyanyian
hujan yang berjatuhan. Ia makin gelisah. Namun kegelisahan itu tak berarti
membuat bayangan sosok tersebut telah luput dalam ingatan. Mimpi
semalam..perjanjian yang wajib ia tepati ditambah lagi rindu rindu itu makin
membebani otaknya.
Akhirnya..tanpa menunda waktu ia putuskan
untuk melangkahkan kaki menghadapi hujan yang begitu tak layak untuk dijalani.
Ia membilah setapak demi setapak jalanan yang hampir lenyap akibat hujan yang
tak mau berkesudahan. Butiran air matanya pun turut berjatuhan, menjadi satu
dengan tetesan hujan, dan sementara kakinya tak henti melangkah berharap dengan
cepat sampai ditujuan. Baju yang basah kuyup, kepala sakit, dingin yang
mencekam, tak ia pedulikan sama sekali. Ia melakukan semua demi hanya memenuhi
permintaan Bari dan kawan kawan. Sesekalipun ia ingat akan sosok tersebut,
sembari meneteskan air mata kerinduan.
“Kak..biarlah
aku berjalan ditengah tengah hujan yang deras ini, agar tetesan ini tak
dikenali oleh orang lain satupun...hanya aku dan Tuhan tahu bahwa aku
rindu..aku ingin kakak berada disisiku saat ini...aku sayang sama kakak..aku
ingin kakak selalu hadir disetiap hembusan nafasku, dan aku ingin kakak selalu
menemani tiap langkah perjalananku, aku rindu kak..”tetesan itu makin
berjatuhan layaknya hujan.
Ternyata lamunan dan rasa yang berkecamuk
telah mengantarkannya disebuah SMP dimana kisah kisah itu terjadi. Ia tengah
berdiri tepat dibawah ring yang warnanya telah berubah dibandingkan saat ia
masih menempati sekolah itu. Namun ia mengalihkan pandangannya pada parkiran
beberapa meter dari keberadaanya. Sebuah Toyota Alphard dan Honda jazz juga
menyaksikan apa yang sedari tadi ia lakukan. Ia semakin bingung tak menentu.
Bukankah Bari dan yang lainnya pergi dengan menggunakan satu mobil ? Lantas,
yang satu lagi mobil siapa ?
Ia menatap kesemua pekarangan sekolah. Namun
tak satupun bayangan Bari ia jumpai, begitupun dengan kawan kawan yang lain.
Kemana mereka ? Sebuah pertanyaan yang berkali kali datang menghampiri. Ia
masih bertahan ditengah tengah lapangan basket meskipun sekujur tubuhnya
diguyur air hujan yang masih keras kepala untuk melangkah pergi.
“Bari..Jee..Luna...dimana
kalian ?”berkali kali ia lakukan, namun tak ada satupun yang menyahuti.
Dengan rasa kekecewaan dan langkah yang
gontai ia berlalu mencoba meninggalkan puing puing kepedihan ini. Butiran
kristalnya turun berjatuhan. Ia terhenti sejenak..memandang semua injakan
bayangan tersebut. Ia teringat, didepan kantor guru, di labor komputer, di
depan perpustakaan, di parkiran, di kantin, semua masih terbayang kehadiran
sosok yang selama ini ia rindukan. “Kak...aku
rindu kehadiranmu..”gumamnya sembari melangkahkan kaki.
Baru beberapa meter perjalanan,
mendadak langkahnya terhenti. Sebuah jacket menyelimutinya dari belakang.
Sepasang tangan hangat tengah menutup kedua bola matanya dengan lembut. Ia
masih terdiam. Sepasang tangan itu membuatnya nyaman sekali. Perlahan lahan ia
membalikkan badan, namun kedua tangan itu masih melekat dimatanya. Ia
memberanikan diri untuk memegang kedua tangan yang menutupi matanya. Perlahan lahan
ia lepaskan.
“Kakak
Bee...”gumamnya pelan seakan tidak percaya. Keduanya saling bertatap muka
ditengah hujan yang begitu deras, seolah olah memandikan rindu yang selama ini
mereka simpan.
“Mey..mulai
detik ini..kamu nggak boleh lagi bilang waktu itu jahat, tanpa jarak dan waktu
rindu itu tidak akan ada, coba kamu lihat mentari..dia selalu bersemangat
menjalani hari meski hujan selalu jadi penghalang, dan juga tanpa kehadiran
pelangi, ngertikan...!!! Maafin kakak ya Mey..kakak sayang sama kamu..kakak
rindu sama kamu, kamu maukan menjalani hari hari bersama kakak.....”ucapan itu
keluar seiring kecupan hangat mendarat dikeningnya. Sorakan dan teriakan Bari,
Jee, dan Luna juga turut membanjiri mereka. Mey masih membatu tanpa sepatah
katapun. Sementara hujan masih memandikan mereka yang masih bertatapan. TAMAT.

0 komentar:
Posting Komentar