RSS

Kamis, 26 September 2013

Perkelahian Sunyi

Oleh : Dika Ps
XI PK
Krrk...krrk...krrk...                                                                                                                                    
Suara itu hampir menggerisik tiap sudut malam. Kalau dihitung mungkin tak terbilang. Puluhan lembar termakan amukan galau. Ia bertindak seenaknya, menarikan pensil sembari menelaah tahun petang. Lalu, ia lemparkan pada semacam benda yang menjuntai. Ia makin merenung. Angka itu menyakitkan bila dicicpi. Ia tak henti membentangkan sketsa. Momen momen itu masih menjelaga otaknya. 0, ternyata almanak dua ribu dua belas itu masih ia abadikan. Mungkin sebagai obat bagi rindu yang tidak berkesudahan.
“Hufffhhh...!!!!,”desis nafasnya menggambarkan kebencian. Ia menyalahkan waktu, sebab waktu telah membuat ia mencicipi keindahan dan waktu juga membuat ia menikmati keperihan.
“Dulu kau mengecap keindahan, hingga kau merasa manusia yang paling berarti didunia, dan sekarang kau harus mengecap juga keperihannya. Bukankah itu suatu keadilan ? Ha...ha...ha...”. waktu menyeringai. Tawanya bergema, membuat luka luka makin mendidih. Angka ia sentuh itu bagai perang mulut dengannya.                                                            
“Akh...tidak...”almanak itu ia campakkan beberapa meter dari keberadaannya, lalu,”A..aaku hanya menginginkan kehadiran kak Bee, itu saja,”ucapnya dan membiarkan tetesan itu memandikan kerah bajunya. Rindu menusuk membuat butiran kristal tersebut berjatuhan. Nafasnya sedu. Kedua pipinya lembab mengukir tanda kesetiaan. Ia bergumam, menatap sebuah figura yang memampangkan : 14 April 2012. Jemarinya menari lincah disekujur figura tersebut. Tiap sudut terkenai usapan tangannya. Andaikan tangannya bertinta, mungkin foto itu sudah lenyap saking seringnya sentuhan itu mendarat.                     
“Ha...ha...kau merindukannya...?”waktu seakan menentang. Ucapannya padat, mengandung cemoohan yang kadarluarsa ditumpahkan. Telah berbulan, waktu menunggu ia berlutut seolah memelas semuanya ingin dikembalikan seperti semula.
            Diatas rotasi bumi, waktu berdiri gagah. Ia bangga menonton makhluk tersebut terperangkap dalam jeratnya. Masa lalu itu benar umpan bagi penikmatnya. Hingga waktu kali ini merasakan kemenangan, yang menepikan waktu pada kejayaan. Membuat otak makhluk tersebut kumuh oleh bayangan masa lalu, kenangan.
“Akhh...lupakan, bodoh kau masih mengingatnya”sang mentaripun bertindak, semangatnya tuk bekerja terus seolah mencerminkan gambaran bahwa sesuatu itu dijalani dan dinikmati apa adanya.                                                                                                                     
“Hey !! jangan pedulikan, bukankah kau yang membuat cinta itu melekat ? Bukankah kau yang menghabiskan diriku bersamanya ? Dan apakah semua itu kau campakkan begitu saja ? Ingat...kenangan dan rindu itu adalah bagian dari hidupmu ? Kau tidak maukan semuanya lenyap tanpa pembuktian cinta ? “waktu menyergap, menyalahkan ucapan sang mentari.
Ia terpukul. Sepertinya ia membenarkan rayuan waktu. Ia terbangkit dari bisikan bayang bayang sebuah almanak dan seberkas pantulan cahaya mentari. Pensil dihadapannya ia genggam kuat dan menarikan diatas selembar kertas. Dan setelah berakhir, ia berpikir sejenak. Kedua bola mata masih ia tujukan pada selembaran tersebut yang ditubuhnya tersirat : 14 April 2012.
“14 April 2012..bukankah angka itu menyakitkan ? Lantas kenapa kau perbuat demikan, itu hanya akan membuat kau makin rindu “mentari kembali berbisik, seberkas cahayanya laksana menampar tulisan tersebut. Mentari tidak setuju, ia larut dalam masa lalu. Sebenarnya mentari hanya ingin makhluk itu menikmati siangnya, seperti semula, sebelum waktu mempermainkannya.
“Kau takkan berarti tanpa kenangan itu, kau normalkan...?”ucapan waktu membuat semua hening. Ruang perkelahian kembali tenang. Ia membatu dan galau mengutuk. Gelap pun membunuh. Sang mentari kembali kemarkas. Sepi dan sunyi menancap tiap perputaran jarun jam.
“Apa ini cinta ?”ia bergumam, sementara jemarinya menari lincah diatas keyboard, lalu,”Apa ini tidak menyakitkan, bila kuturuti kehendakku larut dalam rindu rindu beku ? Dan apa yang kuperbuat agar rindu ini lepas dan pergi selain menikmati galerimu dimonitor ini ?”celotehnya masih tak berujung. Tatapannya terkaku setelah sosok tersebut muncul.
Kembali ia menyentuh sosok tersebut, persis apa yang ia lakukan terhadap figura foto sebelumnya. Sentuhan lembut, bagai pertemuan sepasang kekasih yang telah lama merindukan. Sesuatu mendongak kepalanya. Ia terdiam lalu tersenyum. Mungkin kisah kisah itu mengutak atik otaknya. Kadang, senyuman itu ia nilai lebih dari sebuah kenangan. Sebab, senyuman yang selalu ia lontarkan, tulus atas perlakuan sosok pada monitor itu. Ia menerinci. Kelakuan konyol yang diperbuat hanya membuat ia tersenyum dan tertawa geli. Ia pun teringat, tatkala mendapatkan nilai ujian yang parah, sampai sampai ia tak keluar kelas, merasa minder dan kurang percaya diri. Hanya sosok tersebut membuat ia kembali pada awalnya.
Senyuman kali ini tak bertahan lama, senyuman itu memudar, lalu,”Apakah kau masih seperti dulu, memintaku tersenyum dan tidur yang lelap, bertingkah konyol, menyenandungkan lagu lagu cinta serta mengirimkan surat yang terkandung puisi puisi cinta dan lelucon, hingga kau kembali menikmati senyumanku, seperti beberapa bulan lalu ? Sungguh aku tak menginginkan kau jauh dari kehidupanku”.
Ia seakan tertusuk peluru cinta yang membara. Perlahan lahan kepalanya rebah tepat dihadapan layar monitor, sementara jemarinya tak lepas dari tubuh komputer tersebut. Mendadak, kedua matanya tertabrak pada sebuah almanak dua ribu tiga belas.
“Kak, aku rindu....”rintihnya pelan. Hanya kata rindu yang terlontar dari gerakan lidah kerap kali keinginan itu benar benar menusuk. Ia terdiam seketika. Tatapannya masih tak mau hengkang dari sosok tersebut.
“Kenapa harus ada rindu tatkala jarak pisahkan kita ? Cintakah ? Sayangkah ? Bencikah ?, ini sangat perih..kak. Andaikan kita dulu tak pernah bertatap muka, pasti semua takkan terkisah”.                                                                                                                                         “Bagus..kau mengingatnya...”kembali waktu seolah berucap. Ruang perkelahian kembali bergema. Namun kali ini, tidak ada mentari, sebab mentari tengah berpetualang dibagian bumi belahan sana.
Sunyi menepi kedalam pangkuan kelam. Dengan lamban, dingin turun berganding dengan nyenyanyian syahdu angin malam. Sebuah benda mungil itu ia mainkan dalam genggamannya. Ia larut dalam kebisuan, menatap angka angka pada benda mungil tersebut.
“Salahkah jika aku minta sedikit waktumu disana,kak..walau hanya sekedar mendengar suaramu itu ? Aku takut, jika aku lakukan kakak akan membenciku, karena kesibukan kakak yang begitu padat. Emm..semoga disana pendidikan kakak berakhir dengan cepat, seperti yang kakak ucapkan padaku beberapa bulan lalu,”ia membatin seraya tersenyum. Dan selalu saja senyuman itu dibarengi hujan dikedua kelopak mata.
Ia duduk menghadap barat, lalu meneliti. Pada bagian barat itulah rindunya menumpuk. Ia selalu membentangkan bagan tentang sosok tersebut. Lebih lebih jika jingga mekar tatkala senja. Ia tak jenuh bersketsa. Padang..? Bibir itu telah lusuh dengan ucapan Padang, Padang dan Padang.                                                                                                                                      
“Padang..? Apakah kau disana itu ?,”gumamnya dan bola matanya liar menerka keberadaan dari jauh.
Pernak pernik tubuh bintang terbingkai indah diangkasa. Malam ini indah, namun itu tetap saja baginya seperti malam yang redup, malam yang terlalu perih dinikmati saat ini. “Akh....aku harus tetap aku yang dulu. Mey, gadis yang ceria dan periang, tapi... aku nggak bisa kembalikan semua tanpa kehadiran kak Bye. Semenjak keberangkatan kak Bye, semua terasa hampa tak berwarna. Dunia bagai terasa kering. Huff...bagaimanapun juga aku harus bisa tanpa kehadiran dia. Ya Allah...yakinkan bahwa aku pasti bisa,”ia membatin sembari menelusuri helai tiap helai sudut koran. Sayangnya, apa yang berjejal dihalaman halaman tersebut tidak bersahabat. Malahan membuat ia makin kembali tersandung waktu lalu. Seonggok kalimat : Gempa Yang Melanda Kota Padang serta sebuah bangunan bangunan roboh, membuatnya nyaris menitikkan air mata.
Antenanya kembali merespon bahwa sesuatu itu dinikmati bukan disesali. Kata kata itu ia rekam beberapa bulan lalu. Ia mengingat. Tatkala itu ia menelusuri bibir pantai berdua. Membiarkan jilatan ombak membasahi kaki telanjang, saling lempar kata, tentang pendidikan, pengalaman bahkan kehidupan hingga keluarlah kata kata yang barusan menghantui otaknya.                                                                                                                               
“Segala sesuatu itu dinikmati bukan disesali, bukankah ini kata yang kak Bee lemparkan kepadaku..dikala senja itu?”nada suaranya makin melemah. Sepertinya ia ingin cerita lalu itu terulang kembali.                                                                                                                                        “Aku tak menginginkan semuanya pudar begitu saja,”mendadak suaranya drastis berubah.
Ia beranjak dari perkelahian. Harapannya untuk kembali bertemu masih terbang diawang awang. Ia menaruh koran tersebut, lalu menutup komputer dan mencoba lelap, menepis lembaran lembaran kisah yang selama ini memebebani pundaknya. Semua kembali hening. Kabut kabut rindu mulai melangkah. Dingin menusuk hingga kelapisan tulang iga. Sunyi mencekam. Hanya derap langkah jarum jam bernyanyi, tiap detik ke menit.
                                                                       ****
             Hari ini dijam 02.00 a.m. Ditaman belakang sekolah ia merenung menatap awan awan yang mengisi hamparan langit. Rindukah ? Berimajinasikah ? Semua masih membanjirinya.
“Hm..Mey, ternyata kamu disini, apakah tugas bahasa indonesia halaman 75 sudah kamu selesaikan ?”                                                                                                                                 “Oh..tidak sama sekali. Buku itupun belum aku sentuh sedikitpun”.                                                “Belum ?”                                                                                                                                               “Mm..kenapa sich ?”                                                                                                                                      “Hey ! ! Kamu nih..kamu nih sudah berubah Mey, kamu bukan yang dulu lagi, rajin, ceria, aktif. Coba sekarang ! ! Pendiam dan lebih suka sendiri kayak gini, gimana sich kamu...memangnya kamu mau nanti kita jongkok depan kelas, jadi tontonan mereka semua, malukan ! ! ! Kamukan jago bahasa indonesia ?”                                                                          “Dengar ya Chika, aku biasa saja kok, nggak terlalu jago bahasa indonesia, aku Cuma menyukainya. Kenapa sich kalian selalu tertumpu dengan jawaban dariku, tuh ada Jee, Luna, Bari..mereka tu lebih jago dariku dan kenapa harus aku ?”                                                                   ”Bukannya gitu Youra...kita cuma butuh kebersamaan. Bukankah kebersamaan itu lebih menyenangkan, kompak dan saling berbagi...,”                                                                                ”Aku tau kok tapi aku cumaa.....”                                                                                                                     ”Ya sudah Mey, aku tinggalin dulu ya”.
                Sepi kembali memukulinya untuk berimajinasi. Siang dan malam tak berbeda baginya. Malam berbintang tak indah begitupun dengan siang, cerah tidak cerahnya tak membuat sedikitpun ia nampak menikmati harinya. Ia lebih menyukai diam, lebih lebih di taman sekolah ini. Ia paling menyukai duduk disini terutama saat sepi. Ia akan terbang dan melepaskan apa yang menganggu perasaannya.
“Kebersamaan...”Ia membatin dan mengulang ngulangi kalimat tersebut.            “Kebersamaan dapat membuat kita saling berbagi, ya benar.....”perlahan lahan butiran itu membasahi kedua pipinya. Hanya tetesan butiran yang dapat ia berikan setiap hal kebersamaan itu tertangkap pendengarannya.                                                                                                              “Kalian..tidak mengerti dengan perasaanku saat ini, kalian bagai anjing yang mendapat seonggok makanan. Kalian hanya bisa mementingkan perasaan kalian”.
“Mey..Mey..,”sebuah suara membuyarkan lamunannya. Dengan sigap ia menyeka seluruh tetesan itu dengan lengan bajunya.                                                                                                 “Eh....Bari, sudah siap tugas kelompoknya Bar..?”ia berusaha tersenyum tapi yang jelas senyuman itu penuh kepalsuan demi menyelimuti tangisnya.                                                   “Kamu..kamu habis nangis ya...”                                                                                                       “Oh..nggak, ada yang aneh denganku ?”                                                                          “Emm..ti..ti..tidak..cuma nanya saja kok..”                                                                                            ”O..gitu ya”                                                                                                                                                    “Tugas tadi ya....belum siap sich...! ! ! Aku cuma nggak enak aja sama kamu Mey” “Maksudnya Bar..?”                                                                                                                               “Mmm..iyaa..awal aku dekat dengan kamu, waktu kelas sembilan SMP dulu, kamu orangnya ceria, rajin, dan aktif dalam segala kegiatan Ekstrakurikuler”                                                                    ”Lalu ?”                                                                                                                                                   “Ya.....kamu tu orangnya ceria dan aktif”                                                                                                  “Ceria dan aktif darimana, biasa saja kok..”                                                                                            “ Toh, buktinya kamu jadi Osiskan waktu SMP sampai sampai dapat penghargaaan dari Kak Bee, pake hadiah pula lagi tuh ! ! !“                                                                                                   “He..he..memangnya kamu ngiri ya, aku dapat penghargaan gitu..”                                                 “Oh..nggak, bukan gitu....maksudnya gini, kamu tuh biasanya ceria, mudah tersenyum...terutama saat...saat kak Bee PL dulu, dan semenjak di SMU ini, kamu dah berubah Mey, pendiam dan lebih suka menyendiri kayak gini..”                                                     “Aku rasa biasa saja Bar..nggak jauh beda kok dengan sebelumnya”                                                    “Mey, tau nggak..kamu mirip pacaran dengan kak Bee, iyakan...”                                                 “Akh..yang benar saja Bar ngomongnya, memangnya kamu lihat dari sudut mana?” “Kalian...sering jalan berdua, bercanda berdua, jalan berdua, kemana mana berdua dan...yang paling aku ingat disaat kak Bee suka jahil sama kamu sampai sampai kamu nangis dan membencinya, iyakan..”                                                                                                                                                     “Cuman itu doang kok Bar, udah dibilang pacaran, gimana sich kamu ini ?”                              “Memangnya nggak pernah kak Bee bilang sesuatu sama kamu ?”                                                  “Hah ! ! Bilang sesuatu, memangnya ada apa Bar..”                                                                           “Aduh gimana ya Mey mau bilangnya, sebelumnya maaf ya Mey, sebenarnya...sudah lama kak Bee ngomong sama aku, tapi karena masih bimbang bilangin ke kamu, lagian kalian begitu akrab kayak pacaran, ya...aku simpan saja semuanya, aku pikir...kak Bee sudah jadian sama kamu”                                                                                                                                          “Maksudnya apa Bar, aku nggak ngerti ! !”                                                                                           “Gini..dulu waktu classmetting, disaat kamu tengah bermain basket dilapangan, aku sama kak Bee ngomongin kamu didepan perpuss..”                                                        “Memangnya..kak Bee ngomong apa Bar..”                                                                                      “Kak Bee pernah suka sama kamu Mey, tapi...tapi....”                                                                             “Tapi apa Bar...”                                                                                                                                            “Tapi dia bilang karena perbedaan umur yang terlalu jauh dan juga keberadaannya yang singkat saat itu. Cuman se-semester , habis itu dia balik lagi ke Padang”                                    “Oh..gitu ya,wajar aja dia sering nemanin aku ngerjakan tugas. Lebih lebih waktu aku hampir putus asa bikin soal soal itu, dia akan bantu tanpa aku minta”                                                   “Sudahlah Mey, semuanya dah berlalu, mustahilkan terulang kembali”                                         “Aku ingat Bar semuanya, kak Bee pernah nanya tentang tahun kelahiranku di Labor komputer, tapi..aku nggak tau apa maksudnya, aku pikir..pengen tau saja”                                   “Berapa sich bedanya sama kamu”                                                                                                                “Waktu SMP dulu..dia dua puluh dua dan aku lima belas, tapi..kenapa sich kak Bee nggak bilang bilang sama aku...”                                                                                                                 “Pasti ada sesuatu Mey, yang jelas dia bukan bermaksud ngecewakan kamu, kamu masih komunikasikan sama dia ?”                                                                                                                    “Masih, nggak kayak dulu lagi Bar, kemana mana selalu bareng, sekarang tidak lagi...sudah satu tahun lebih aku nggak jumpa dengannya Bar..”                                                                    “Kamu tau kabar dia sekarang ?”                                                                                                                “Tau Bar, dia telat nyelesaikan kuliahnya, dia bilang...kejar IPK tinggi...”                                                     “O, syukurlah Mey kamu masih komunikasi dengannya. Aku ngerti ngerti sekali perasaan kamu sekarang Mey, tapi nggak perlu dipikirin kok, kan masih komunikasi. Mey..aku ke toilet dulu ya..”                                                                                                                                        “Mm...tunggu Bar.....”                                                                                                                                “Ada apalagi Mey..”                                                                                                                         “Ka..kamu..kamu teman akrabnya kan...aa..maksudnya kak Bee, aku lihat sejak dulu kalian begitu dekat, tapi...kamu masih komunikasi jugakan sama sama kak Bee ?”                         “Komunikasi...masih Mey, tapi hanya sesekali, itupun sebatas nanya tugas yang rumit, kalau kayak dulu lagi...nggak sich, mungkin dia terlalu sibuk”                                                                            “O, aku ngerti kok Bar, dia terlalu sibuk. Dan...aku paham betul, dia juga orang yang gigih dalam mencapai impiannya, terutama demi masa depannya”                                             “Memangnya..kak Bee pernah ngomongin itu sama kamu”                                                         “Pernah sich..tapi kebanyakan dia lebih suka memotivasi aku, dia pernah bilang, sesuatu itu dinikmati bukan disesali..”                                                                                                                     “Nah, itu dia Mey, sesuatu itu dinikmati bukan disesali, jadi..kamu harus jalani aja semuanya, nikmati harimu meski tanpa kehadiran kak Bee, bukan disesali kayak gini..”                            “Tapi..kayaknya aku nggak bisa dech Bar, kemana pergi selalu ingat kak Bee..”                    “Percayalah Mey, kamu pasti bisa, jadi ini toh yang bikin kamu malas belajar..”                          “Nggak..”                                                                                                                                                     “Udah deh Mey, ngaku saja..aku dah tau kok semuanya..”                                                                            “Iya deh..aku ngaku..”                                                                                                                                  “Tu kan..benar juga, aku tinggalin dulu ya..”                                                                                                “Iya Bar, tapi..aku nyesel, soalnya waktu SMP aku benci sekali sama kak Bee, ternyata.. kak Bee tidak seperti apa yang kukira, dia baik, pengertian..”                                                             ”Sudahlah Mey, gak perlu disesalin, lebih baik kamu mikirin hal hal tentang masa depan kamu”                                                                                                                                                             “Iya Bar..aku coba”                                           
              Ia membatu. Semua rasa ia kemasi dalam diri. Ada sedikit lega dari sebelumnya, namun dibalik semua itu masih terbungkus letupan perih. Dalam benaknya ia bersketsa. Kedua bola matanya liar menerawang ke hamparan langit yang luas. Ia bagai menangkap sosok tersebut. Awan awan yang terdapat ditubuh langit itu menyapanya dalam hening. Semua kembali sepi. Nyenyanyian burung di udara sana tak mempan mengusik pikirannya dari pengakuan Bari tentang Bee, sosok yang selama ini menghantui batinnya, hingga rindunya beku.
             Bel tanda pulang menyelusup kerongga telinganya. Akan tetapi ia tak mau hengkang dari sisi taman ini. Semua terdengar riuh. Derusan kendaraan membanjiri pintu pagar yang masih segar warna untuk dinikmati. Derap langkah mengisi tiap lorong jalan antara kelas dengan kelas. Ia tetap tak tersentuh, layaknya yang lain. Benar benar bagai arca kesepian. Ia masih setia menemani pohon Akasia yang melindungi dirinya dari sengatan mentari.
“Kau bodoh ! !”ucapan waktu seolah menyuruh ia membuka segala hal tentang sosok tersebut. Sesuatu ia keluarkan, lalu ia terinci dengan penuh arti. Ya...puisi. ia mengingat, bukankah sosok tersebut membuat ia menyukai “puisi” dan mengenal “dunia sastra” ? Tak sedikitpun ia lupa. Selalu setiap pagi ia mendapati pada atas meja, secarik kertas yang dilapisi sebuah amplop yang mana didalamnya terangkai indah kata kata, hingga membuatnya ketagihan untuk membaca setiap hal yang bernama puisi
Ia benar benar tak karuan. Puisi yang pertama kali ia dapati masih utuh dan rapi. “Kak..kenapa harus perih, bukankah kita yang membuat semuanya tersa lebih indah, aku nyesal kak, aku telat mengartikan sikapmu, aku bodoh ! !”
“Tidak...kau tidak bodoh. Hanya saja semuanya ujian terhadap perasaan kamu, agar kamu berfikir lebih dewasa,”sang mentaripun seolah tak kalah dari pertempuran.
“Youra..kok masih disini ? Tuh...kan habis nangis”                                                                      “Aku nggak nangis Bar, cuma sedih aja kok”                                                                                                 “Aduh ra, aku..aku jadi nyesal nich ngomongin semuanya sama kamu. Nich jadinya, kamu malah tambah sedih”                                                                                                                       “Nggak Bar, malahan aku bangga punya teman kayak kamu, kamu orangnya baik, beda sama yang lain, wajar saja kak Bee ngomongin perasaannya sama kamu”                                                                                                                                                          “Baik ? Aku rasa tidak Ra..dikit dikit aku juga usil sama cewek cewek yang lain kok”                     “Bukan gitu Bar, kamu itu...dapat dipercaya. Ngertikan. Yuk, kita pulang”                                       “Eits..tunggu dulu Ra, kamu juga sukakan sama kak Bee ?”                                                               “Nggak ! ! Kak Bee itu sudah aku anggap sebagai kakak kandungku sendiri. Itu aja, nggak lebih dikitpun”                                                                                                                              “Lantas..dalam rangka apa kamu sedih sedih gini sambil pegangin puisi dari kak Bee ?” “Heh..mamangnya kamu tau nich puisi ?”                                                                               “Taulah..orang saja pernah nemanin kak Bye bikin puisi di parkiran”                         “Sudahlah...nggak perlu dibahas”                                                                                                     “Ya udah, ngalah aja dech sama kamu, ntarr kalau nangis lagi, kan....kak Bee-nya nggak ada disini”                                                                                                                                                   “Eh..apaan sich kamu”                                                                                                                             “Kan benar tuch..kalian suka sama suka”                                                                              “Hey..diam nggak ! !”
“Aku hanya ingin kak Bee ada disini..apakah rindu ini pertanda cinta ?”ia bergumam lirih sembari menapaki meter demi meter trotoar.
             Langkahnya lesu dan pelan, sementara kepalanya menunduk tanpa memperdulikan kendaraan dan keramaian. Dalam otaknya bayangan sosok tersebut masih menari lincah. Ia membayangkan segala yang berbau tentang sosok itu. Sosok pemain basket, dan yang paling melekat dalam otaknya adalah seorang yang encer dalam masalah komputer dan laptop. Semua tersentak.
             Tatkala itu, ia menangis meratapi layar laptopnya yang kaku lantaran kecerobohannya dalam bersikap. Layar itu hanya menampakkan hitam. Namun ia selalu berusaha, akan tetapi usahanya tidak membuahkan hasil. Tetap saja layar tersebut kaku, hingga ia memukuli laptop itu berkali kali. Beberapa selang waktu, tangisannya redup setelah sosok tersebut menyentuh dan memperbuat laptop itu persis semula.
              Ia tetap menunduk, sesekali tersenyum kecil. Terkadangpun, senyuman itu ia terselingi dengan sebuah rasa ‘rindu’. Spontan saja langit murung, gelap menerkam. Ada rintik rintik yang sebagian diantaranya memandikan sekujur tubuhnya. Kilat menyambar, petir berterbangan. Ia terjaga dari lamunan dan melabuhkan langkahnya disebuah halte. Dalam pikirannya berkecamuk antara risih dan rindu. Andaikan tadi pagi ia tak menolak untuk dijemput, pasti semuanya tidak ia jalani. Berdiam dihalte yang sunyi, sendirian tanpa seorangpun dan yang pasti beberapa detik lagi kejenuhan mulai mengekangnya.
             Berkali kali ia mencoba duduk, lalu berdiri. Ia tetap mengulangi hal tersebut. Tak ada hasil. Jenuh itu masih sulit tuk ditepis. Dan pernah juga ia menyetel lagu lagu dari mp3-nya agar jenuh itu terbunuh oleh nada nada serta lirik yang terkandung didalamnya. Ia sepertinya menikmati, meski samar samar terdengar sekurangnya mampu menelan risih dan gelisah yang datang. Mp3-nya menyenandungkan lagu milik Seventeen. Entah..lirik ‘jaga selalu hatimu’ itu bagai sembilu yang menyayatnya digaris sunyi. Risih pergi, rindu membelenggu.
“Bagus..kau mengingatnya, kau takkan pernah mencicipi cinta tanpa sebuah rindu, aku takkan memberi jalan bagimu kembali kepangkuannya, dan sekarang nikmati saja pangkal lidah itu ! !”waktu menyeringai. Tawanya adalah luka bagi makhluk yang terseret dalam permainannya.
“Akh..tidak..tidak..semua tidak benar. Aku yakin jika Tuhan mempertemukan kita semua pasti terulang,”ia membatin seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali,lalu“Lagu ini..menghanyutkanku pada detik detik tirai penghabisan itu, aku teringat, kak Bee membawakan lagu ini diatas panggung perayaan perpisahanku waktu lalu, kenapa semua cepat berlalu?”ia membatin seraya melogatkan lirik lagu tersebut.                                           “Itu berarti kau tidak menikmatinya diwaktu lalu, kau hanya bisa melewati diriku tanpa memaknainya, sehingga aku kau nilai sebagai umur pendek,”waktu seolah berbisik membuat sosok tersebut makin menyalahkan dirinya.
              Ia terlanang disebuah sudut halte. Pikirannya terbang melintasi awan. Dalam batinnya hanya terukir kata ‘rindu’. Tatapannya menerinci kearah jalan yang berair. Jika sosok tersebut disisinya, mungkin halte ini akan menjadi lebih indah dan berwarna. Ia menggambarkan sosok tersebut berjalan ditrotoar, menghampirinya dan menawarkan sebuah jaket, bagai beberapa bulan lalu.
              Halte ini menjadi penyakit yang menggelayuti tubuhnya. Barangkali ia terpaksa menggali kembali sisa lembar kenangan yang telah terlalui satu tahun lebih. Badai rindu yang datang ia kemasi dalam sebuah tulisan. Ia yakin bahwa tulisan mampu mengabadikan serpihan rasa yang tertinggal, tidak bagai tulisan yang terukir dibibir pantai setahun lalu, tatkala sosok tersebut sejengkal dari tatapannya.
 “Ya..dibibir pantai itu kau membuat tubuhku memar akan tamparan hangat dan penuh kasih sayang. Baguslah..ternyata virus itu masih menguasai otakmu. Nah itu adalah pedang bagimu yang menyayat batinmu untuk memutarku kembali menjejaki satu tahun kebelakangan, oh..takkan pernah..!!”waku seolah perang batin dengannya. Persiteruan ini selalu ia hadapi, terutama tatkala sunyi dan sepi.                                                                                       
“Aku ingin kak Bee ada disini, apakah mungkin kembali aku menjumpai dirinya hadir didepan mata, meski semua takkan terulang, aku bagai dunia kekeringan, bertahan dari kehausan yang mengancam, namun akankah berakhir ?”batinnya terucap dan membilah jari demi jari. Ia lakukan berulang kali seakan ia tak menginginkan hasil hitungannya. Satu tahun lebih, terpaksa ia menelan ludah. Ia berucap bahwa janganlah satu tahun itu yang hadir setiap hitungan ia sudahi. Namun apa boleh buat, sudah kodratnya begitu.
             Kemaren 14 April 2012 dan sekarang akhir Agustus 2013, namun entah..keindahan hari tersebut masih menggantung dilangit langit kepalanya. Ia terbungkam diantara nyenyanyian rintik hujan yang mulai beranjak. Jalanan kembali riuh. Dengan gontai, ia langkahkan jua kaki meninggalkan hallte yang terlihat makin muram seakan memanggil dirinya untuk kembali. Sebelum menjauh, ia menatap lagi halte tersebut. Dahinya mengernyit beberapakali. Ia seperti menangkap sesuatu.
“Kak Bee..ya kakak Bee, aku ingat..kita pernah duduk disini bergurau dan bermain tebakan sambil menunggu kepergian hujan, dihari pertama aku classmetting.
“Oh..!! ya, kertas itu..” Ia berlari memasuki halte itu kembali. Tangannya bergerak liar menyentuh sekujur tubuh, bagai orang yang kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
“Oh..yeah..masih ada, walau telah tercecer ! !”dengan kilat, ia menyambar robekan kertas yang terselip diantara sela sela kursi.
           Kertas itu ia tatap berkali kali, seolah ingin memuntahkan rindu yang telah berbulan bulan ia peram. Mungkin ia menilai robekan itu bagai alarm yang selalu mengingatkannya bahwa pada sesuatu hal yang sangat berarti dalam jejak jejak, yang pernah ia ukir pada lantai halte itu. Perlahan lahan cekung matanya telah dipenuhi oleh beberapa butiran kristal yang siap lepas tandas. Namun kali ini tak ia biarkan butiran butiran tersebut memandikan kerah bajunya.
             Robekan tersebut ia kemasi. Ia berlalu. Dingin sisa perjalanan hujan membuatnya sedikit mendekap. Selangkah demi selangkah seolah tak ia rasakan. Getaran cinta dan badai rindu yang membunuhnya, tak akan pernah membuat ia untuk menghapus segala bayangan itu dari jejaknya. Demi bayangan tersebut, tak apalah ia dinilai telah berubah. Baginya, tidak masalah jika semua temannya telah menjauh akibat perubahan sikap yang ia pertontonkan, asalkan bayangan Bee tetap abadi bagai tulisan, yang mampu mengabadikan berjuta perasaan.
“Seharusnya tidak kupertaruhkan air mata ini hanya demi sebuah kenangan..seharusnya aku kuat dan sadar bahwa cinta mesti tak harus memiliki, tapi apakah salah jika aku berharap semuakan terulang kembali ? Ya Tuhan..sampai kapan rindu ini menyayatku ? Kapankah rindu ini berlabuh ?”butiran kristal itu menetes dan berjatuhan tiap setapak demi setapak kaki ia langkahkan.
             Ia terhenti sejenak. Pandangannya lurus kedepan. Telah beribu ribu langkah ia layangkan. Akan tetapi tak sedikitpun membuatnya berhenti untuk berharap. Rindu yang berkecamuk, malahan membuatnya makin menikmati tiap detik perjalanannya. Bukankah biasanya ia paling anti dengan yang namanya jalan kaki ? Entah..kali ini ia begitu menikmati.
             Tak terasa selangkah demi selangkah telah mengantarkannya pada halaman depan rumah. Akan tetapi, sesekali pikiran itu masih dipenuhi oleh beberapa kenangan yang sangat tak mungkin hilang dan lenyap dengan sendirinya. Rindu yang membatu sangat sukar dilebur. Meskipun berpuluhan tips dan cara melenyapkannya ia peroleh dari Google, namun yang namanya rindu tak mempan lenyap, kecuali pertemuan yang harus ia jalani layaknya beberapa tahun lalu. Lama bergumam, akhirnya ia memasuki rumah bersama serpihan rindu.
             Ia menjuntai pada sudut malam diatas kursi yang selalu menjadi saksi tatkala rindu rindu itu membelenggu. Jendela kamar sengaja ia buka lebar seolah olah mempersilahkan hadirnya bayangan sosok tersebut. Secarik kertas yang ia peroleh dihalte sebelumnya turut menikmati sedihnya saat ini. Pandangannya lurus keatas dan sesekalipun ia alihkan pada secarik kertas tersebut. Begitupun dengan puisi yang kerap kali ia dapati dalam laci meja didetik semuanya belum usai dan pergi seperti ini. Semua ia keluarkan tanpa tersisa, hingga meja dibanjiri oleh secarik kertas yang menurutnya begitu sangat berarti.
             Salah satu diantara lembaran tersebut ia baca. Dan tak lupa usapannya menyentuh kata kata yang bertinta hitam itu. Mungkin dengan adanya lembaran kertas tersebut, setidaknya dapat membuat rindunya sedikit menipis. Akan tetapi, itu tidak dapat bertahan lama setelah ia sadar bahwa rindu rindu itu takkan terobati dengan beribu ribu kata dan tulisan.
“Akh..seharusnya dulu aku tak membencinya sedikitpun, mungkin rasa sesal ini takkan mengekangku, bisa jadi aku mencintainya lantaran terlalu membenci kehadirannya,”ia berceloteh seakan akan melampiaskan rasa sesal itu.
“Sifat jahil itu...ternyata kak Bee hanya ingin mendekatiku, bukan karena yang lain, maafkan aku kak...”gumamnya dan mencoba mempertahankan tetesan itu agar kembali tak mengenai pipinya.
“Mey..Mey.......” suara itu membuyarkan lamunannya.                                                                 “Bari, Luna, Jee, a..ada apa malam malam gini“                                                                                “Maaf ganggu, tadi aku coba telfon kamu, tapi gak aktif...makanya kami langsung saja kesini”                                                                                                                                                       “Oh..iya handhphoneku lagi mati, yuk masuk”                                                                                   “Makasih Mey, kita disini saja”                                                                                                              “Sebenarnya ada apa Bar ?”                                                                                                              “Emh..gini Mey, besokkan hari Minggu, gimana kalau kita latihan basket bareng disekolah, tapi..tapi bukan di SMU Mey, latihannya di SMP kita yang kemaren, maukan”                                         “Malam malam kesini cuma ingin bilang latihan basket, ah..kalian ada ada saja..”                      “Ya..sekalian liat liat sekolah, selama di SMU kan kita belum pernah ke SMP”                                            “Aduh maaf Bar, aku nggak...”                                                                                           “Sstt..jangan lagi kamu bilang nggak bisa, kita jauh jauh kesini cuma butuh kehadiran kamu besok Mey”                                                                                                                                          “Tapi...”                                                                                                                                                       “Mey, yang jelas..kalau kamu nggak mau, kamu bakalan nyesal”                                           “Nyesal..cuma gara gara nggak ikut latihan basket aku nyesal, akh..jangan main main kalian” “Benaran, kamu pasti nyesel”                                                                                                                   “Aku nyesal, ini terlalu konyol Bar...”                                                                                                                  “Mey pilisss..., maukan ?”                                                                                                                            “Oke, tapi jangan pake lama lama ya”                                                                                                    “Nah..gitu dong, oh iya..kami pamit dulu ya..”                                                                                      “Lho..kok cepat sekali..”                                                                                                                         “Soalnya hari sudah larut malam Mey”                                                                                              “Stop..tunggu dulu, kalian datang kesini, terus cuma bilang besok latihan basket bareng dan setelah itu kalian pergi buru buru gitu..maksud kalian apa sih, dari lagak kalian aku sedikit curiga, atau..jangan jangan kalian ngerjain aku biar aku kembali seperti dulu iyakan...”                                                                                                                                            “Mey..kami bukan.......”                                                                                                                    “Alah..dari cara kalian aku sudah tau kok, pasti ada sesuatu dibalik semua ini”                                    “Aduh Mey, pokoknya kamu nggak bakalan nyesal, dijamin..!”                                                    “Cukup..oke oke aku akan datang tapi ingat ya..aku akan datang dengan caraku sendiri” “Baiklah, yang penting kamu datang besok jam sembilan”
             Ia menghembuskan nafas disela sela kegelisahannya. Ucapan yang baru saja ia terima laksana di dunia mimpi. Berbagai pertanyaanpun muncul, sementara ia tak lepas dari ucapan tadi yang terkadang membuat beribu rasa penasaran membebani kepalanya. Antara percaya dan tidak, ia tetap mengenang ucapan itu kembali. Ia makin tertunduk. Sejenak ia coba hapus kembali seakan akan ucapan itu tak pernah mampir ketelinganya. Sesuatu serasa membebani kedua kelopak matanya. Lalu dengan langkah yang penuh kelelahan, ia menutup jendela kamar dengan rapat dan menghempaskan tubuhnya pada ranjang.
“Kak Bee..kakak masih disini...”                                                                                                                 “Siapa kamu ?”                                                                                                                                                  “Aku Mey kak..orang yang pernah kak pinjamkan jacket dihalte itu, dan juga kak bantu saat..saat aku kecebur dalam kolam dibelakang sekolah..”                                                               “Maaf ya..aku nggak kenal sama kamu”                                                                                    “Kak..dengarin aku dulu, bukankah kakak yang bilang sama Bari kalau kakak...kakak punya rasa, sama aku?”                                                                                                                                 “Bari..aku nggak kenal, jangankan punya rasa, kenalpun aku nggak sama kalian..”                            “Lalu..siapa perempuan ini kak ?”                                                                                                       “Oh ini..ini pacar aku yang aku dapatkan saat malakukan penelitian di SMU-nya, memang kenapa, kamu kenal sama dia ?”                                                                                                      “Pacar kakak..ini pacar kakak !”                                                                                                      “Iya, sudahlah mendingan kamu pergi sana, nggagguin orang saja..”                              “Kak..kak..kak...kak beeeeeee.........”
“Kak Bee..kak Bee......”sebuah jam bekker kesayangannya berdentang nyaring, ia tersentak sementara sekujur tubuhnya basah akibat keringat dan begitu juga dengan nafasnya yang terengah engah, seperti baru saja menyelesaikan sebuah pertandingan lari jauh, lalu ”Ya Tuhan...aku bermimpi, kak apakah masih seperti dulu ?”gumamnya mencoba melirik pada puisi puisi yang berserakan diatas meja.
             Ia bangkit lalu membenahi puisi puisi yang masih berserakan dan tak lupa membuka gorden yang masih menutup jendela kamarnya. Hujan yang begitu deras menyambutnya pertama kali. Ia menggerutu. Bukankah ia mempunyai janji untuk datang latihan basket ke SMP itu ? Lagi lagi hujan menghalangi langkahnya untuk keluar rumah. Ia makin merenung menatap rintik rintik hujan yang enggan membiarkan kakinya untuk melangkah. Begitupun dengan waktu yang makin terus melangkah mendekati jarum jam perjanjian. Sembari menunggu kepergian hujan, ia mencoba mengingat kembali. Akh..perih sekali jika itu memang jadi kenyataan. Dan tetesan itu kembali lagi memenuhi kedua bola matanya.                              
 “Mey..Mey... jadikan..” sebuah suara derusan mobil menghentikan aliran tetesan itu.                       “Aku bersih bersih dulu Bar, duluan saja kalian, ntar aku nyusul “sambungnya berlalu dari depan jendela.
             Setelah semua sudah bersih, ia mengemasi barang barang yang akan dibawa, dan tak lupa sebotol susu Hiloteen sebagai bekal latihan nantipun juga memenuhi ransel Adidas yang memang ransel khusus dibawa saat ia melakukan kegiatan semacam olahraga. Ia berlalu meninggalkan ruang yang selalu menjadi tempat persiteruan terutama tatkala rindu mampir.
“Lho..kalian kok belum berangkat ?”                                                                                                        “Kita kita lagi nugguin kamu Mey..”                                                                                                               “Aku berangkat sendiri saja”                                                                                                          “Nggak bisa gitu Mey..kalau latihannya bareng, ngapain harus berangkat sendiri, kan nggak enak jadinya, apalagi hujan kayak gini”                                                                                                 “Aku nggak peduli..hujan atau nggak..”                                                                                                “Mey..kok kamu tambah galak kayak gini, a..aku jadi bingung”                                                        “Dengar ya Bar..aku kan sudah bilang..aku akan berangkat dengan caraku sendiri, dan aku nggak pernah bilang kalau aku, berangkat bareng kayak gini”                                                                                                         “Iya kami ngerti kok, tapi inikan hujan Mey, ntar kamu sakit gimana ?”                            “Aduuhh...kalian itu aneh aneh saja ya, seharusnya kalian yang mikir..kenapa hari hujan latihan basketnya tetap lanjut..?”                                                                                                   “Tapi Mey..ini semua...”                                                                                                                           “Sudah deh Bari, kalau gitu aku nggak mau datang”                                                                       “Eh..jangan Mey, kami benar benar butuh kehadiran kamu saat ini”                                    “Baguslah..kalau gitu duluan saja kalian..”                                                                                             “Baik, tapi kamu harus datang ya”
             Toyota Alphard itu telah berlalu dari hadapannya. Kini yang ada dihadapannya adalah percikan hujan yang semakin menjadi jadi. Dingin, menyelusup kerongga rongga yang dapat dilewati, disusul percikan hujan sesekali ingin menjangkau tubuhnya dari halaman depan. Spontan, matanya menangkap sosok jalanan depan sana. Sesosok lelaki yang bertubuh tegap tengah menyelimuti seorang perempuan dengan sebuat jacket milik lelaki tersebut.
“Akh..romantis sekali, kehadiran mereka membuatku ingat sama kak Bee..”gumamnya sembari menatap bayangan mereka yang semakin lenyap didepan mata.
             Ia masih terpaku menerinci setiap air yang berjatuhan. Ada gundah yang tengah bercokol dalam dirinya, takut hujan ini takkan berakhir. Dan rindupun sesekali mengotori pikirannya, ingat akan bayangan tersebut. Ia berpikir. Sekali lagi ia menyalahkan waktu. Andai saja, waktu takkan berjalan dan berputar, mungkin rindu ini tidak pernah sama sekali singgah dalam kesendiriannya.
             Hujan masih belum hengkang, sementara jarum jam makin mendekati angka sembilan. Ia masih termangu disela sela nyanyian hujan yang berjatuhan. Ia makin gelisah. Namun kegelisahan itu tak berarti membuat bayangan sosok tersebut telah luput dalam ingatan. Mimpi semalam..perjanjian yang wajib ia tepati ditambah lagi rindu rindu itu makin membebani otaknya.
             Akhirnya..tanpa menunda waktu ia putuskan untuk melangkahkan kaki menghadapi hujan yang begitu tak layak untuk dijalani. Ia membilah setapak demi setapak jalanan yang hampir lenyap akibat hujan yang tak mau berkesudahan. Butiran air matanya pun turut berjatuhan, menjadi satu dengan tetesan hujan, dan sementara kakinya tak henti melangkah berharap dengan cepat sampai ditujuan. Baju yang basah kuyup, kepala sakit, dingin yang mencekam, tak ia pedulikan sama sekali. Ia melakukan semua demi hanya memenuhi permintaan Bari dan kawan kawan. Sesekalipun ia ingat akan sosok tersebut, sembari meneteskan air mata kerinduan.
“Kak..biarlah aku berjalan ditengah tengah hujan yang deras ini, agar tetesan ini tak dikenali oleh orang lain satupun...hanya aku dan Tuhan tahu bahwa aku rindu..aku ingin kakak berada disisiku saat ini...aku sayang sama kakak..aku ingin kakak selalu hadir disetiap hembusan nafasku, dan aku ingin kakak selalu menemani tiap langkah perjalananku, aku rindu kak..”tetesan itu makin berjatuhan layaknya hujan.
             Ternyata lamunan dan rasa yang berkecamuk telah mengantarkannya disebuah SMP dimana kisah kisah itu terjadi. Ia tengah berdiri tepat dibawah ring yang warnanya telah berubah dibandingkan saat ia masih menempati sekolah itu. Namun ia mengalihkan pandangannya pada parkiran beberapa meter dari keberadaanya. Sebuah Toyota Alphard dan Honda jazz juga menyaksikan apa yang sedari tadi ia lakukan. Ia semakin bingung tak menentu. Bukankah Bari dan yang lainnya pergi dengan menggunakan satu mobil ? Lantas, yang satu lagi mobil siapa ?
             Ia menatap kesemua pekarangan sekolah. Namun tak satupun bayangan Bari ia jumpai, begitupun dengan kawan kawan yang lain. Kemana mereka ? Sebuah pertanyaan yang berkali kali datang menghampiri. Ia masih bertahan ditengah tengah lapangan basket meskipun sekujur tubuhnya diguyur air hujan yang masih keras kepala untuk melangkah pergi.
“Bari..Jee..Luna...dimana kalian ?”berkali kali ia lakukan, namun tak ada satupun yang menyahuti.
             Dengan rasa kekecewaan dan langkah yang gontai ia berlalu mencoba meninggalkan puing puing kepedihan ini. Butiran kristalnya turun berjatuhan. Ia terhenti sejenak..memandang semua injakan bayangan tersebut. Ia teringat, didepan kantor guru, di labor komputer, di depan perpustakaan, di parkiran, di kantin, semua masih terbayang kehadiran sosok yang selama ini ia rindukan.                                                                      “Kak...aku rindu kehadiranmu..”gumamnya sembari melangkahkan kaki.
              Baru beberapa meter perjalanan, mendadak langkahnya terhenti. Sebuah jacket menyelimutinya dari belakang. Sepasang tangan hangat tengah menutup kedua bola matanya dengan lembut. Ia masih terdiam. Sepasang tangan itu membuatnya nyaman sekali. Perlahan lahan ia membalikkan badan, namun kedua tangan itu masih melekat dimatanya. Ia memberanikan diri untuk memegang kedua tangan yang menutupi matanya. Perlahan lahan ia lepaskan.
“Kakak Bee...”gumamnya pelan seakan tidak percaya. Keduanya saling bertatap muka ditengah hujan yang begitu deras, seolah olah memandikan rindu yang selama ini mereka simpan.
“Mey..mulai detik ini..kamu nggak boleh lagi bilang waktu itu jahat, tanpa jarak dan waktu rindu itu tidak akan ada, coba kamu lihat mentari..dia selalu bersemangat menjalani hari meski hujan selalu jadi penghalang, dan juga tanpa kehadiran pelangi, ngertikan...!!! Maafin kakak ya Mey..kakak sayang sama kamu..kakak rindu sama kamu, kamu maukan menjalani hari hari bersama kakak.....”ucapan itu keluar seiring kecupan hangat mendarat dikeningnya. Sorakan dan teriakan Bari, Jee, dan Luna juga turut membanjiri mereka. Mey masih membatu tanpa sepatah katapun. Sementara hujan masih memandikan mereka yang masih bertatapan. TAMAT.

0 komentar:

Posting Komentar