OLEH : FADHILA RAHMI
XII PK
Jam dinding
kamarku mulai merangkak malas menunjukkkan angka 12 malam. Tapi mataku tak juga mau dikatubkan, masih mengganga lebar sebesar 80 Watt. Angin malam celam - celum tanpa permisi melewat celah lubang pernapasan
kamarku, seakan membekukan hati kaku ini. Dewi malam tersenyum mengintipku dari balik tirai kusam. Disekelilingnya
ditemani ribuan bintang yg berkerlap – kerlip memamerkan kilauan terindah
mereka.
Ku masih
menggelung diatas ranjang, memberontak dengan fikiran yang berkecamuk, seakan
beku dalam kenestapaan ini. Beberapa menit berselang, kucoba menampik
kegundahan hati ini tuk berdamai dengan
perasaan. Namun tetap saja namanya memenuhi dan menjalari urat – urat syaraf
otakku. Kuberdiri dari ranjang reot, yang slalu setia menampung kelah kesahku. Melangkah terseok – seok, karena kesemutan yang menggelitik.
Kutumpahkan
kegundahan hati pada kursi berukiran
khas zaman kolonial Belanda ini. Pekikan
derak – derak jendela saatku membukanya sepertinya juga merasakan hatiku yang sekarang terasa
ngilu. Kusingkap tirai kusam, sudah lama
tidak kucuci. Angin semilir sejuk menyapa kekekeruhan hati. Sedikit melegakan rongga dada. Kuhirup
nafas dalam – dalam, menghembuskannya secara perlahan. Kupagut
tulang kering yang semakin kecut ini. Sesekali kubenamkan wajah kisut dalam
tempurung lutut. Namun namanya masih
membekas dalam benakku, sulit menghilangkan Bayangannya yang selalu membisikkan sesuatu gaib,
membuatku melayang diombang - ambing
alam khayal tak menentu. Tidak mungkin
akan kutembus dalam dunia nyata,nihil. dialah sukma hawa yang selalu
bergentayangan disetiap bunga tidurku. Rima kaulah bintang kejora dari timur,
yang selalu membangunkanku dari tidur lelap.
Dulu ketika awal
kepindahannya kesekolah ini, aku tidak menaruh perasaan apa – apa kepadanya. Kehadirannya dalam hidukku tak kuanggap, hanya
sebagai angin menganngapnya cukup sabagai adik kelas. Tidak ada terbesit
sedikitpun dalam fillingku untuk memiliki dan menganggapku lebih dari
sosok kaka kelas. Tapi dia begitu perhatian dan simpati dengan aku, bahkan
terdengar desas – desus kalau dia menyukaiku. Firahsatku semkin yakin ketika kutau, dia setengah mati mengemis minta nomor hpku pada
rendy. Entah lagi iseng, enggak ada kerjaan atau apalah dia selalu menyempatkan
waktu buat sms aku.
“malam kak”... kuterima pesan singkat darinya. Mungkin
dia ngefans dengan aku. Desisku suatu
waktu, ketika ia menanyakan tips – tips menulis karya sastra yang baik. Dia
juga nyinyir padaku tiap kali notebooknya
bermasalah dan mendesakku untuk segera memperbaikinya. Bukanya ada rendy yang
bisa menangani hal sepele itu??. Tapi dia malah
meminta bantuanku.
Dia selalu mendatangi kelasku, untuk
memperbaikinya. Tak pernah memandang
waktu bertamu, keluar masuk dari kelasku seperti kamar sendiri baginya. Tak
peduli bahwa selepas jam istirahat ini aku mau ulangan. Aku suka meledekinnya.
“ kamu itu belum pantas punya notebook,
noh sono, kuasai dulu komputer baru beli notebook!”.
Suatu ketika ia membawa notebooknya
kedalam kelasku. Namun sekeras dan sekasar apapun hinaanku padanya, ia hanya cengar –
cengir dan menyeringai melihat jidatku berkerut memitas virus – virus ganas
dari notebooknya. Tidak ada rasa
dendam yang kutangkap dari pancaran sinar wajahnya. Mungkin karna sifatnya yang
cuek itulah membuatku ingin menyelami hatinya.
Setiap hari kamis, pulang sekolah Dia sering memintaku menemaninya pergi ketoko buku.” Ke
toko bukunya naik apa Rim?, “motor kakaklah”. Jawab Rima dengan muka sengriwih.
“kalau kakak cuma ada motor buntut ini, kakak takut kamu malu jalan denganku. biasanya kemana –
mana kamu kan slalu naik ninja?”. Bantahku lirih dan merendah saat dia hendak nyerobot menaikinya.
“eehh,,,jangan
ngomong begitu kak, naik ninja atau
motor ini enggak ada bedanya kok, yang penting kan bisa ngantar sampai tujuan.
lagian jam segini bang Rendy pasti ada tambahan jam belajar sore!”. Ujar Rima yang
terdengar ketus, seraya melirik jam tangan yang melilit pergelangan tangannya..
“beneran enggak apa – apa?, kalau begitu ayo naik sekarang!”. Rona kemerahan
berseri kembali terpancar diwajahnya yang ayu. saking girangnya, ia melonjak –
lonjakan kaki ketanah, seperti anak kecil dapat mainan baru dari orang tuanya. hahaha
kedekatanku denangnya bukan hanya itu . Sekali seminggu Rima selalu minta ditemani kepantai menyaksikan Sunset dilaut. Kami habiskan Waktu sore dipantai, menikmati pemandanagan indah. Tak lupa Rima selalu menyuguhiku air kelapa muda yang baru dipetik dari pohonya. Yang menyegarkan tenggorokanku. Terkadang aku yang gantian ntraktirin dia. Gengsi dikit, masa ia cewek terus yang traktirin cowok.
kedekatanku denangnya bukan hanya itu . Sekali seminggu Rima selalu minta ditemani kepantai menyaksikan Sunset dilaut. Kami habiskan Waktu sore dipantai, menikmati pemandanagan indah. Tak lupa Rima selalu menyuguhiku air kelapa muda yang baru dipetik dari pohonya. Yang menyegarkan tenggorokanku. Terkadang aku yang gantian ntraktirin dia. Gengsi dikit, masa ia cewek terus yang traktirin cowok.
Entah setan apa yang merasuki dan membisikkan dalan kalbuku, setiap
aku berada didekkatnya, aku merasakan suatu kenyamanan yang sebelumnya tidak pernah kurasakan. jantungku berdegup
kencang Tak beraturan. Terkadang aku salah tingkah dibuat oleh cewek yang jago
Matematika ini. Tuhan inikah dinamakan Cinta??. Diusiku menginjak 17 tahun belum ada sesutau
yang nyata kurasakan, semuanya samar – samar, Semu belaka. Semuanya datang dan
pergi tanpa pamit meninggalkanku. Aku butuh tempat untuk curhat, tapi pada
siapa??
Jujur aku tak
punya nyali mengunggkapkan perasaan ini pada Rima, perasaan memberontak, yang
pada suatu saat akan meledek sebelum waktunya. Kubuka laci lemari belajar
menyambet sepucuk surat, dihiasi oleh warna – warni bunga mawar. Memang kedengarannya aku kulot, kuno.
Namun hanya pada selembar kertas ini kulampiaskan kegundahan yang kurasakan.
Didalam Sepucuk surat ini, bisa kutumpahkan isi hati ini yang kuperam selama
ini.
Berulang kali
kubaca surat cinta pertamaku itu, sembari mengeleng – gelengkan kepala, petanda
tak yakin. Kubenamkan niat tulus ini pada rongga dada dalam - dalam. tersiar
kabar burung kalau Rima sedang menjalin hubungan khusus dengan Fandy, cowok terpopuler disekolahku. Aku juga tidak kalah cool dan
jentelmen dengan Fandy, cuman saja dia
berasal dari keluarga berada. Sedangkan
aku untuk bayar uang SPP bulanan dari tulisanku yang dikirim tiap bulan kemedia
massa dan beasiswa yang diluncurkan pemerintah tiap semester. Namun aku belum mengonfirmasinya langsung pada Rima. Tapi sepertinya benar
desas – desus tersebut. Hampir tiap pulang sekolah Rima diboncengi oleh Fandy,
dengan motor Vixonnya. Aku cemburu
melihat mereka semesra itu. Ngapain aku
cemburu, toh aku bukan siapa – siapanya Rima.
tempisku
Lamunanku buyar ketika percikan hujan
meleleh dari langit. Rembulan yang tersenyum kini telah meredup tertutup hawa kabut yang
membalut bumi kelam. Sekelam dan sekusam hatiku. Segera kutarik jendela menutupnya rapat –
rapat. Lembayung yang memanjat jendela kamarku bernari – nari tekena percikan
hujan. Kulirik jam dinding yang bergambar animasi naruto itu. Mataku terbelalak
melirik Jam yang sudah menunjukkan pukul 01.20. “astaga hari sudah terlampau larut untuk anak
sekolah seusiaku”. Bisikku dalam hati.
Tiap jam
istirahat, aku selalu menyempatkan diri berkunjung kepustaka sekolah. Biasanya
hanya meminjam buku atau mengembalikan buku yang sudah tamat kubaca. Terkadang
hanya melepas jenuh dalam ruangan kelas yang pengap. Namun kali ini aku tak
sekedar meminjam buku, tapi menyampaikan isi hatiku pada Rima. Disudut pojok
paling ujung aku melihat Rima tengah menikmati bukunya.” Ahh,,, memang kita jodoh”. Ujar hati kecilku. Kuhampiri ia dan
menyapanya. Rima menghentikan sejenak
lalu menutup buku tersebut. “eehhh,,, ada kak bagas”.
“Ayo silahkan
duduk kak”. Ujar Rima ramah dengan senyum tersungging dikedua sudut bibirnya yang anggun. Dengan
jantung dagdigdug kencang, ku beranikan diri duduk disampingnya. “sudah lama
yaa,,?”. Duh, kata – kata yang klise dan tidak bermutu. “belum juga sih
kak,,,!”. Balasnya dengan mata berbinar menatapku.“kakak boleh nanya sesuatu
nggak Rim?” Tanyaku dengan ceplas – ceplos. “boleh kak. Memangnya kakak mau
nanya apa?” Tanya Rima balik , keringat dingin menyeluruh membelah garis
punggungku dengan deras. Telapak tangannku dingin, mengeja kalimat yang akan
kututurkan pada Rima.
“kamu benar
pacaran sama Fandy?”.ujarku dengan nada cemburu disetiap kata yang terlontar. “haha,,,Ea enggaklah kak. Kakak
percaya aja dengan desas – desus demikian. Aku dan Fandy itu sepupuan, sama
dengan kak Rendy”. Kata Rima panjang lebar mengutarakan yang sebenarnyaa. Aku
sedikit lega mendengarnya langsung dari kedua bibir mungil Rima. “Berarti masih
ada kesempatan terbuka lebar”, ujarku dalam hati.
Kukumpulkan
nyali, memberanikan diri mengungkapkan kata – kata yang ku rangkai semalam.
Kuraba saku celana kanan dengan tangan kiri. Tangan kiriku Sibuk mencari kertas
berwarna merah, mawar. Mungkin inilah saatnya aku menyatakan perasaan yang
kupendam slama ini pada rima, aku takkan mengulur – ulur waktu lagi.
Rima hanya
termangu menatap pohon akasia yang tumbuh subur menyentuh bibir atap pustaka.
Surat itu masih dipegangnya dengan sedikit gemetaran, tapi Dia hanya diam seribu bahasa, tanpa merespon. seperti kehilangan roh yang melayang dibawa
semilir. Setelah membaca dan mendengar langsung kalimat yang kuutarakan padanya.
Teng... teng... Bel berdering nyaring,
memecahkan suasana yang hening.”duluan ya,,, kak, Rima mau ujian fisika”.ujar Rima
datar, lewat didepanku dan melemparkan senyum sedikit memudar dari biasanya.
Aku hanya termangu melihat pemandangan itu. Aku tetap berdiri mematung dipojok jendela, mendekorasi pustaka
ini. Diam membisu
***
Kenapa Rima
menolakku?, apa kekuranganku dengan cowok lain?. Mungkinkankah Rima seperti
itu?. Memandang rendah seseorang karna
statusnya dan memilih yang sederajat?. Ahh.. entahlah buat apa aku terus
memikirkanya. Mungkin hati Rima sudah dimilik lelaki lain yang jauh lebih
sempurna dari aku, lebih kaya dari aku. teka – teki itu belum bisa
kupecahkan. itu sangat mengusik
pikiranku. Membuatku tidak tenang. Kukubur teka – teki ini dalam – dalam.
Membuka lembaran buku catatan sejarah. Karena besok ada Ulangan harian.
Pagi – pagi
sekali aku sudah tiba disekolah. Aku masih belum bisa melupakan kejadian
diperpustakaan kemaren. Hatiku semakin tersayat - sayat didiamkan Rima. pikiranku
makin terguncang apalagi ia tak merespon sedikit pun. Alasan itu yang membuatku sulit mencerna satu persatu kalimat yang
tertera di buku catatan Sejarah. Kumendapai sepucuk surat dalam laci. ” Siapa
yang mengirim surat pagi – pagi benar. Surat apakah ini?” Tanyaku dalam hati
dengan penasaran. Surat dari binder berwarna ungu, sama dengan surat yang
kukasih ke Rima kemaren.
“enggak salah lagi, surat ini pasti Rima yang
menaroh dilaciku. Ahh,,, Rima kamu sungguh Romantis, kuberikan surat padamu,
kau balas kembali dengan surat”. Ujarku dengan mata berbinar – binar. Saking penasaran, kubuka segelnya dengan kasar.
lalu kubaca surat itu dengan seksama.
lalu kubaca surat itu dengan seksama.
Asalamu’alaikum Wr. Wb,,,
kak...
Mungkin ketika membaca surat ini, kakak sangat kesal dengan Rima,
Atau kakak sedang marah dengan Rima. Tapi Rima tak peduli kak,,
Kakak mau marah, kesal atau membenci Rima sekalipun.
Rima melakukan ini semua karena Rima sudah menganggap kak Bagas Seperti kakak Rima sendiri. Sama dengan kak Rendy dan fandy.
Rima tak mau ada benih – benih cinta diantara kita kak...
Karena hal itu dapat mengurangi rasa sayang kakak pada Rima suatu nanti.
Rima tak ingin dicintai, tapi Rima ingin disayangi. Seperti kak fandy dan
rendy menyayangi Rima. Rima sangat bahagia mempunyai 3 orang kakak yang setia menjaga dan melindungi Rima.
Mungkin diawal pertemuan kita ada benih – benih
cinta yang bersemi dalam hati Rima. Tapi seiring dengan bertukarnya hari, benih itu lenyap entah kemana. lebih baik kita temana saja,,, dan fokus dulu dengan ujian kita yang
sudah diambang mata. Rima harap kakak mengerti
kak...
Mungkin ketika membaca surat ini, kakak sangat kesal dengan Rima,
Atau kakak sedang marah dengan Rima. Tapi Rima tak peduli kak,,
Kakak mau marah, kesal atau membenci Rima sekalipun.
Rima melakukan ini semua karena Rima sudah menganggap kak Bagas Seperti kakak Rima sendiri. Sama dengan kak Rendy dan fandy.
Rima tak mau ada benih – benih cinta diantara kita kak...
Karena hal itu dapat mengurangi rasa sayang kakak pada Rima suatu nanti.
Rima tak ingin dicintai, tapi Rima ingin disayangi. Seperti kak fandy dan
rendy menyayangi Rima. Rima sangat bahagia mempunyai 3 orang kakak yang setia menjaga dan melindungi Rima.
Mungkin diawal pertemuan kita ada benih – benih
cinta yang bersemi dalam hati Rima. Tapi seiring dengan bertukarnya hari, benih itu lenyap entah kemana. lebih baik kita temana saja,,, dan fokus dulu dengan ujian kita yang
sudah diambang mata. Rima harap kakak mengerti
Salam manis: Rima azkiyah sholeha
Ku tersenyum getir usai membaca
surat dari Rima. Puzzle itu kini
telah sempurna oleh surat ini dengan
jelas. Mungkin memang kata Rima lebih baik aku dianggap sebagai kakak kandungnya,
dari pada teman spesial yang akhirnya dapat membuat hatinya terkoyak – koyak.
THE END

0 komentar:
Posting Komentar