RSS

Jumat, 27 September 2013

CINTAKU TAK BERBALAS



OLEH : FADHILA RAHMI
XII PK

Jam dinding kamarku mulai merangkak malas menunjukkkan angka 12 malam. Tapi  mataku tak  juga mau dikatubkan, masih mengganga lebar  sebesar 80 Watt. Angin malam celam - celum  tanpa permisi melewat celah lubang pernapasan kamarku, seakan membekukan hati kaku ini. Dewi malam tersenyum mengintipku  dari balik tirai kusam. Disekelilingnya ditemani ribuan bintang yg berkerlap – kerlip memamerkan kilauan terindah mereka.
Ku masih menggelung diatas ranjang, memberontak dengan fikiran yang berkecamuk, seakan beku dalam kenestapaan ini. Beberapa menit berselang, kucoba menampik kegundahan hati  ini tuk berdamai dengan perasaan. Namun tetap saja namanya memenuhi dan menjalari urat – urat syaraf otakku. Kuberdiri dari ranjang reot, yang slalu setia menampung kelah kesahku.  Melangkah terseok – seok,  karena kesemutan yang menggelitik.
Kutumpahkan kegundahan hati  pada kursi berukiran khas zaman kolonial Belanda ini.  Pekikan derak – derak jendela saatku membukanya sepertinya  juga merasakan hatiku yang sekarang terasa ngilu.  Kusingkap tirai kusam, sudah lama tidak kucuci. Angin semilir sejuk menyapa kekekeruhan hati. Sedikit  melegakan rongga dada.  Kuhirup  nafas dalam – dalam,  menghembuskannya secara perlahan. Kupagut tulang kering yang semakin kecut ini. Sesekali kubenamkan wajah kisut dalam tempurung lutut.  Namun namanya masih membekas dalam benakku, sulit menghilangkan Bayangannya yang  selalu membisikkan sesuatu gaib, membuatku  melayang diombang - ambing alam khayal tak menentu. Tidak  mungkin akan kutembus dalam dunia nyata,nihil. dialah sukma hawa yang selalu bergentayangan disetiap bunga tidurku. Rima kaulah bintang kejora dari timur, yang selalu membangunkanku dari tidur lelap.
Dulu ketika awal kepindahannya kesekolah ini, aku tidak menaruh perasaan apa – apa  kepadanya.  Kehadirannya dalam hidukku tak kuanggap, hanya sebagai angin menganngapnya cukup sabagai adik kelas. Tidak ada terbesit sedikitpun dalam  fillingku  untuk memiliki dan menganggapku lebih dari sosok kaka kelas. Tapi dia begitu perhatian dan simpati dengan aku, bahkan terdengar desas – desus kalau dia menyukaiku. Firahsatku semkin yakin  ketika kutau, dia  setengah mati mengemis minta nomor hpku pada rendy. Entah lagi iseng, enggak ada kerjaan atau apalah dia selalu menyempatkan waktu buat sms aku.
“malam kak”... kuterima pesan singkat darinya.  Mungkin dia ngefans dengan aku. Desisku suatu waktu, ketika ia menanyakan tips – tips menulis karya sastra yang baik. Dia juga nyinyir padaku tiap kali notebooknya bermasalah dan mendesakku untuk segera memperbaikinya. Bukanya ada rendy yang bisa menangani hal sepele itu??. Tapi dia malah  meminta bantuanku.
 Dia selalu mendatangi kelasku, untuk memperbaikinya.  Tak pernah memandang waktu bertamu, keluar  masuk dari  kelasku seperti kamar sendiri baginya. Tak peduli bahwa selepas jam istirahat ini aku mau ulangan. Aku suka meledekinnya. “ kamu itu belum pantas punya notebook, noh sono, kuasai dulu komputer baru beli notebook!”. Suatu ketika ia membawa notebooknya kedalam kelasku. Namun sekeras dan sekasar  apapun hinaanku padanya, ia hanya cengar – cengir dan menyeringai melihat jidatku berkerut memitas virus – virus ganas dari notebooknya. Tidak ada rasa dendam yang kutangkap dari pancaran sinar wajahnya. Mungkin karna sifatnya yang cuek itulah membuatku ingin menyelami hatinya.
  Setiap hari kamis, pulang sekolah Dia sering  memintaku menemaninya pergi ketoko buku.” Ke toko bukunya naik apa Rim?, “motor kakaklah”. Jawab Rima dengan muka sengriwih. “kalau kakak cuma ada motor buntut ini, kakak takut  kamu malu jalan denganku. biasanya kemana – mana kamu kan slalu naik ninja?”. Bantahku lirih dan merendah saat dia hendak  nyerobot menaikinya.
“eehh,,,jangan ngomong  begitu kak, naik ninja atau motor ini enggak ada bedanya kok, yang penting kan bisa ngantar sampai tujuan. lagian jam segini bang Rendy pasti ada  tambahan jam belajar sore!”. Ujar Rima yang terdengar ketus, seraya melirik jam tangan yang melilit pergelangan tangannya.. “beneran enggak apa – apa?, kalau begitu ayo naik sekarang!”. Rona kemerahan berseri kembali terpancar diwajahnya yang ayu. saking girangnya, ia melonjak – lonjakan kaki ketanah, seperti anak kecil  dapat mainan baru dari orang tuanya. hahaha
          kedekatanku denangnya  bukan hanya itu . Sekali seminggu Rima selalu minta ditemani kepantai menyaksikan Sunset dilaut. Kami habiskan  Waktu sore dipantai, menikmati pemandanagan indah. Tak lupa  Rima selalu menyuguhiku air kelapa  muda yang baru dipetik dari pohonya. Yang menyegarkan tenggorokanku. Terkadang aku yang gantian ntraktirin dia. Gengsi dikit, masa ia cewek terus yang traktirin cowok.
 Entah setan apa yang  merasuki dan membisikkan dalan kalbuku, setiap aku berada didekkatnya, aku merasakan suatu kenyamanan yang  sebelumnya tidak pernah kurasakan. jantungku berdegup kencang Tak beraturan. Terkadang aku salah tingkah dibuat oleh cewek yang jago Matematika ini. Tuhan inikah dinamakan Cinta??.  Diusiku menginjak 17 tahun belum ada sesutau yang nyata kurasakan, semuanya samar – samar, Semu belaka. Semuanya datang dan pergi tanpa pamit meninggalkanku. Aku butuh tempat untuk curhat, tapi pada siapa??
Jujur aku tak punya nyali mengunggkapkan perasaan ini pada Rima, perasaan memberontak, yang pada suatu saat akan meledek sebelum waktunya. Kubuka laci lemari belajar menyambet sepucuk surat, dihiasi oleh warna – warni  bunga mawar. Memang kedengarannya aku kulot, kuno. Namun hanya pada selembar kertas ini kulampiaskan kegundahan yang kurasakan. Didalam Sepucuk surat ini, bisa kutumpahkan isi hati ini yang kuperam selama ini.
Berulang kali kubaca surat cinta pertamaku itu,  sembari mengeleng – gelengkan kepala, petanda tak yakin. Kubenamkan niat tulus ini pada rongga dada dalam - dalam. tersiar kabar burung kalau Rima sedang menjalin hubungan khusus  dengan Fandy, cowok terpopuler  disekolahku. Aku juga tidak kalah cool dan jentelmen  dengan Fandy, cuman saja dia berasal dari keluarga  berada. Sedangkan aku untuk bayar uang SPP bulanan dari tulisanku yang dikirim tiap bulan kemedia massa dan beasiswa yang diluncurkan pemerintah tiap semester.  Namun aku belum mengonfirmasinya  langsung pada Rima. Tapi sepertinya benar desas – desus tersebut. Hampir tiap pulang sekolah Rima diboncengi oleh Fandy, dengan motor Vixonnya. Aku cemburu melihat mereka semesra itu. Ngapain aku cemburu, toh aku bukan  siapa – siapanya Rima. tempisku
           Lamunanku buyar ketika percikan hujan meleleh dari langit. Rembulan yang tersenyum  kini telah meredup tertutup hawa kabut yang membalut bumi kelam. Sekelam dan sekusam hatiku.  Segera kutarik jendela menutupnya rapat – rapat. Lembayung yang memanjat jendela kamarku bernari – nari tekena percikan hujan. Kulirik jam dinding yang bergambar animasi naruto itu. Mataku terbelalak melirik  Jam  yang sudah menunjukkan pukul 01.20.  “astaga hari sudah terlampau larut untuk anak sekolah seusiaku”. Bisikku dalam hati.

Tiap jam istirahat, aku selalu menyempatkan diri berkunjung kepustaka sekolah. Biasanya hanya meminjam buku atau mengembalikan buku yang sudah tamat kubaca. Terkadang hanya melepas jenuh dalam ruangan kelas yang pengap. Namun kali ini aku tak sekedar meminjam buku, tapi menyampaikan isi hatiku pada Rima. Disudut pojok paling ujung aku melihat Rima tengah menikmati bukunya.” Ahh,,, memang kita jodoh”. Ujar hati kecilku. Kuhampiri ia dan menyapanya. Rima menghentikan sejenak  lalu menutup buku tersebut. “eehhh,,, ada kak bagas”.
“Ayo silahkan duduk kak”. Ujar Rima ramah dengan senyum tersungging  dikedua sudut bibirnya yang anggun. Dengan jantung dagdigdug kencang, ku beranikan diri duduk disampingnya. “sudah lama yaa,,?”. Duh, kata – kata yang klise dan tidak bermutu. “belum juga sih kak,,,!”. Balasnya dengan mata berbinar menatapku.“kakak boleh nanya sesuatu nggak Rim?” Tanyaku dengan ceplas – ceplos. “boleh kak. Memangnya kakak mau nanya apa?” Tanya Rima balik , keringat dingin menyeluruh membelah garis punggungku dengan deras. Telapak tangannku dingin, mengeja kalimat yang akan kututurkan pada Rima.
“kamu benar pacaran sama Fandy?”.ujarku dengan nada cemburu disetiap kata yang  terlontar. “haha,,,Ea enggaklah kak. Kakak percaya aja dengan desas – desus demikian. Aku dan Fandy itu sepupuan, sama dengan kak Rendy”. Kata Rima panjang lebar mengutarakan yang sebenarnyaa. Aku sedikit lega mendengarnya langsung dari kedua bibir mungil Rima. “Berarti masih ada kesempatan terbuka lebar”, ujarku dalam hati.
Kukumpulkan nyali, memberanikan diri mengungkapkan kata – kata yang ku rangkai semalam. Kuraba saku celana kanan dengan tangan kiri. Tangan kiriku Sibuk mencari kertas berwarna merah, mawar. Mungkin inilah saatnya aku menyatakan perasaan yang kupendam slama ini pada rima, aku takkan mengulur – ulur waktu lagi.
Rima hanya termangu menatap pohon akasia yang tumbuh subur menyentuh bibir atap pustaka. Surat itu masih dipegangnya dengan sedikit gemetaran, tapi  Dia  hanya diam seribu bahasa, tanpa merespon.  seperti kehilangan roh yang melayang dibawa semilir. Setelah membaca dan mendengar langsung kalimat yang kuutarakan padanya.  Teng... teng... Bel berdering nyaring, memecahkan suasana yang hening.”duluan ya,,, kak, Rima mau ujian fisika”.ujar   Rima datar, lewat didepanku dan melemparkan senyum sedikit memudar dari biasanya. Aku hanya termangu melihat pemandangan itu. Aku tetap berdiri  mematung dipojok jendela, mendekorasi pustaka ini. Diam membisu
***
Kenapa Rima menolakku?, apa kekuranganku dengan cowok lain?. Mungkinkankah Rima seperti itu?. Memandang  rendah seseorang karna statusnya dan memilih yang sederajat?. Ahh.. entahlah buat apa aku terus memikirkanya. Mungkin hati Rima sudah dimilik lelaki lain yang jauh lebih sempurna dari aku, lebih kaya dari aku. teka – teki itu belum bisa kupecahkan.  itu sangat mengusik pikiranku. Membuatku tidak tenang. Kukubur teka – teki ini dalam – dalam. Membuka lembaran buku catatan sejarah. Karena besok ada Ulangan harian.
Pagi – pagi sekali aku sudah tiba disekolah. Aku masih belum bisa melupakan kejadian diperpustakaan kemaren. Hatiku semakin tersayat - sayat didiamkan Rima. pikiranku makin terguncang apalagi ia tak merespon sedikit pun. Alasan itu  yang membuatku  sulit mencerna satu persatu kalimat yang tertera di buku catatan Sejarah.  Kumendapai sepucuk surat dalam laci. ” Siapa yang mengirim surat pagi – pagi benar. Surat apakah ini?” Tanyaku dalam hati dengan penasaran. Surat dari binder berwarna ungu, sama dengan surat yang kukasih ke Rima kemaren.
 “enggak salah lagi, surat ini pasti Rima yang menaroh dilaciku. Ahh,,, Rima kamu sungguh Romantis, kuberikan surat padamu, kau balas kembali dengan surat”. Ujarku dengan mata berbinar – binar.  Saking penasaran, kubuka segelnya dengan kasar.
lalu kubaca surat itu dengan seksama.

Asalamu’alaikum  Wr.  Wb,,,
kak...
Mungkin ketika membaca surat ini, kakak sangat kesal dengan Rima,
Atau kakak sedang marah dengan Rima. Tapi Rima tak peduli kak,,
Kakak mau marah, kesal atau membenci  Rima sekalipun.
Rima melakukan ini semua karena Rima sudah menganggap kak Bagas Seperti kakak Rima sendiri. Sama dengan kak  Rendy dan fandy.
Rima tak mau ada benih – benih cinta diantara kita kak...
Karena hal itu dapat mengurangi rasa sayang kakak pada Rima suatu nanti.
Rima tak ingin dicintai, tapi Rima ingin disayangi. Seperti kak fandy dan       
rendy menyayangi Rima. Rima sangat bahagia mempunyai 3 orang kakak yang setia menjaga dan melindungi Rima.
Mungkin diawal pertemuan kita ada benih – benih
cinta yang bersemi dalam hati Rima. Tapi seiring dengan bertukarnya hari, benih itu lenyap entah kemana. lebih baik kita temana saja,,, dan fokus dulu dengan ujian kita yang
sudah diambang mata. Rima harap kakak mengerti
Salam manis: Rima azkiyah sholeha
Ku tersenyum getir usai membaca surat dari Rima. Puzzle itu kini telah  sempurna oleh surat ini dengan jelas. Mungkin memang kata Rima lebih baik aku dianggap sebagai kakak kandungnya, dari pada teman spesial yang akhirnya dapat membuat hatinya terkoyak – koyak.
THE END

0 komentar:

Posting Komentar